Sabtu, 15 Maret 2008

Suprihatin

SUPRIHATIN (13 tahun) memang tidak seberuntung anak-anak sebayanya. Anak yatim ini jauh dari kecukupan apalagi kemewahan materi. Sejak kecil ia harus mandiri agar bisa bertahan hidup.
Ketika ia masih memerlukan kasih sayang orang tua, ayah kandungnya meninggal dunia. Kedukaan semakin bertambah, tatkala ibunya menikah lagi dan mengikuti suami, di kota lain. Sedangkan dia ditinggalkan pada nenek Sahro (79 tahun), di Desa Sirandu Pagerkukuh Wonosobo.
Dalam asuhan nenek Sahro yang penghasilannya tidak menentu, maka cucu dan nenek ini pun hanya bisa bertahan hidup dalam kekurangan. Sehingga Suprihatin kecil ini pun diam dan tak menuntut, ketika dirinya tidak disekolahkan oleh sang nenek.
Tempaan hidup yang keras tak membuat Suprihatin patah semangat. Hal itu justru menumbuhkan semangat untuk mandiri. Maka sejak dua tahun silam, Suprihatin pun "bekerja" sebagai pemulung. Dia dengan sabar mendatangi tong-tong sampah di Kota Wonosobo, untuk mencari kertas, kardus bekas maupun botol plastik bekas.
Kerja kerasnya mengumpulkan barang bekas, rata-rata menghasilkan uang sebanyak Rp 150.000/bulan. Hasil keringatnya itu digunakan untuk menghidupi dirinya dan nenek Sahro yang saat ini sering terganggu kesehatannya.
Jika malam tiba, Suprihatin yang taat beribadah dan rajin sholat, acapkali berangan dan membayangkan nikmatnya bila uatu saat nanti bisa menjadi guru. Namun cita-citanya itu acapkali dipendam saja, karena ia menyadari keadaannya yang serba susah.
Namun kesempatan emas untuk mendapatkan pendidikan itu, akhirnya datang jua. Dia ditawari oleh lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Suprihatin pun dengan senang hati bergabung mengikuti pendidikan program kelompok belajar (Kejar) paket A (setara SD).
Dengan bimbingan para relawan atau tutor Kejar paket A, Suprihatin dan puluhan anak-anak jalanan, tiap sore bisa mengenyam pendidikan. Dalam seminggu, anak-anak pemulung dan pengemis itu melakukan pertemuan atau tutorial tiga kali.
Tekadnya yang besar disertai kemauan kuat, Suprihatin termasuk menonjol dan cepat menyerap ilmu yang diberikan tutor. Kini, Suprihatin sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.
Dalam usianya yang masih belia ini, Suprihatin semakin bergairah menatap masa depan. Dia tidak ingin menjadi pemulung sepanjang hayatnya. Pada suatu ketika nanti, dia ingin mencari pekerjaan yang lebih bermartabat. Untuk itu, dia tetap tabah menghadapi kerasnya kehidupan ini dengan selalu berdoa dan memohon ridhoNya.

Tidak ada komentar: