Sabtu, 16 Agustus 2008

TUGAS DRAINASE PERKOTAAN MHS SMT VI DAN TRANSFER

Silakan masukkan hasil pekerjaan anda disini! Paling lambat tanggal 13 September 2008. Terima kasih!

17 komentar:

Anonim mengatakan...

TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN

NAMA : ARI ANANTHA
NIM : 7206015
SEMESTER : VI

Email : ari_b30kl@yahoo.co.id


TATA CARA
PERENCANAAN UMUM DRAINASE PERKOTAAN
SNI : 02-2406-1991
RUANG LINGKUP:
Standar ini menetapkan Tata cara perencanaan umum Drainase perkotaan yang dapat digunakan untuk
memperoleh hasil perencanaan drainase perkotaan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan -ketentuan teknik perencanaan.

RINGKASAN:
Faktor - faktor umum :
- Sosial ekonomi: pertumbuhan penduduk, urbanisasi, angkatan kerja; kebutuhan nyata dan prioritas daerah; keseimbangan pembangunan antar kota dan dalam kota, ketersediaan tataguna tanah: pertumbuhan fisik kota dan ekonomi pedesaan

- Lingkungan : topografi. eksisting jaringan drainase Jalan, sawah. perkampungan , laut, pantai, tataguna tanah, pencemaran lingkungan, estetika yang mempengaruhi sistem drainase kota, kondisi lereng dan kemungkinan longsor; untuk daerah datar diperhitungkan pengelontoran, pengendapan dan pencemaran; untuk daerah yang terkena pengempangangan dari laut, danau atau sungai diperhitungkan masalah pembendungan dan pengempangan. Perencanaan

- Landasan : didasarkan pada konsep kelestarian lingkungan dan konservasi sumberdaya air yaitu pengendalian air hujan agar lebih banyak meresap ke dalam tanah dan mengurangi aliran permukaan.

- Tahapan : pembuatan rencana induk, studi kelayakan, perencanaan detail; didasarkan pada pertimbangan teknik, sosial ekonomi. Financial dan lingkungan: dilakukan dengan survai lokasi, topografi, hidrologi, geoteknik tataguna tanah, sosial ekonomi, institusi, peran serta masyarakat, kependudukan, lingkungan dan pembiayaan; penyelidikan terhadap parameter disain; penyiapan tanah; pelaksanaan drainase; operasi dan pemeliharaan. Data dan persyaratan; data primer mencakup data 'banjir meliput luas, lama, kedalaman rata - rata, frekuensi genangan, keadaan fungsi, sistem, geometi dan dimensi saluran, daerah pengaliran sungai: prasarana dan fasilitas kota yang ada dan yang direncanakan; data sekunder meliputi rencana pembangunan kota, geoteknik foto udara, pembiayaan, kependudukan, institusi, sosial ekonomi, peran serta masyarakat, kesehatan lingkungan; persyaratan kualitas dan kualitas data, peralatan, metode perhitungan dan asumsi yang digunakan.

Sistem drainase perkotaan : sistem drainase terpisah dan ganungan ; sistem saluran terbuka dan tertutup.
Kriteria : pertimbangan teknik meliput aspek hidrologi, hidraulik dan struktur; pertimbangan lain meliputi biaya dan pemeliharaan. Koordinasi dan tanggung jawab : seluruh penyelenggara teknis pekerjaan dilaksanakan dibawah seorang ahli yang berkompeten dalam tim terpadu; masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh instansi yang berwenang harus diajukan kepada pihak yang berwenang di atasnya.




Sistem Drainase Perkotaan

“Siklus alamiah air menuntut kita untuk peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya, air yang ter-buang atau di-buang akan berpengaruh terhadap air yang akan kita terima kembali”

Makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.
Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.
Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.
Drainase perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang.
Idealnya, pada rencana induk kota, Sistem Drainase Perkotaan harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut.
Sebagai sistem, penanganan drainase tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.


.JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANYA
Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan, masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial merusak lingkungan.
Muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendiri-sendiri. Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh.
Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.

a) Jenis – jenis drainase :
• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus

• Menurut letak bangunan :
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.
b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:
1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage
Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan
.2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut
c) Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap.
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.
2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.

c. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Anonim mengatakan...

JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANNYA

1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :

• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :

1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose

Beberapa jenis air buangan tercampur

• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:

1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage




Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :

1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.

2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.

3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran

5. reklamasi

6. limbah sampah dan pasang surut

c) Penanganan drainase perkotaan :

1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.









2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.

c. Drainase Lapangan Olahraga

Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.







LAYAKNYA berondongan peluru, makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.

Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.

Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.

Drainase dan sanitasi perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sedangkan sistem sanitasi berarti sistem pengendali tingkat higienis, kebersihan dan kesehatan air.

Idealnya, pada rencana induk kota, kedua alur sistem ini harus dipisah. Sistem drainase harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Pun sistem sanitasi, karena sebagian besar berhubungan dengan limbah, maka perlu diusahakan saluran yang benar-benar sehat agar nantinya dapat diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan output-nya memenuhi standar baku air.

Sebagai sistem, penanganan drainase maupun sanitasi tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.

Modal Alami Yogyakarta, Air Mudah Mengalir

Secara geografis, Propinsi Yogyakarta membentang dari batas utara Gunung Merapi sampai dengan batas selatan Samudra Indonesia. Topografi Yogyakarta membentang dari kontur tanah tinggi ke rendah. Untuk pengaliran air, kondisi ini jelas menguntungkan dan tidak membutuhkan rekayasa bangunan sipil yang istimewa. Selain itu, Yogyakarta juga memiliki 3 sungai utama yang membelah wilayah perkotaan. Sungai-sungai tersebut adalah Winongo di sisi barat, Code di sisi tengah dan Gajah Wong di sisi timur. Keunikan alami lainnya, jenis tanah di Yogyakarta adalah tanah berpasir, hal ini karena adanya keberadaan gunung vulkanik. Dengan tanah berpasir, air yang menggenang lebih mudah meresapnya.

Yogya juga memiliki beberapa mata air di sisi utara kota. Modal ini ditambah lagi dengan konsep tradisional masyarakat pinggir sungai dalam memelihara konservasi air. Konsep ini biasa disebut dengan Mbelik. Mbelik adalah sisi pinggir sungai yang menghasilkan mata air kecil dari resapan tanah atau pepohonan. Masyarakat biasanya membatasi daerah ini dengan gundukan tanah atau semen. Daerah tetesan air dicekungi agar air menggenang dan dapat digunakan.

Lewat paparan ini, jelas sudah bahwa sebenarnya Yogyakarta merupakan daerah yang serba kecukupan dan tidak rumit pengelolaan airnya. Masalah drainase dan sanitasi muncul ketika manusia tidak lagi bijaksana menjaga ekosistem. Konsep-konsep tradisional ini diganti ke konsep modern yang setengah hati. Sementara penduduk bertambah banyak, rencana induk kota kurang tersosialisasi kepada masyarakat. Sebaliknya, respon masyarakat terhadap kebijakan kota juga ragu-ragu.



Sistem Drainase Saat Ini, Tergesa Membuang Air

Konsep utama drainase di kota Yogyakarta, secara konvensional mengandalkan 3 sungai utama. Air dari daerah tangkapan (catchment area) dibuang ke sungai lewat jaringan drainase. Seiring dengan bertambahnya permukiman dan pusat kegiatan masyarakat, air yang mengalir di kota semakin sulit meresap dan semakin mudah melimpas (run off). Tanah, sebagai peresap alami air, diganti dengan semen, aspal dan beton. Perubahan-perubahan alam ini terjadi karena peningkatan kebutuhan dan aktivitas masyarakat. Faktor-faktor lain seperti keterdesakan ruang ekonomi, juga mendorong orang untuk berurbanisasi, meninggalkan ”gaya lama” dan pindah ke kota, membangun tempat tinggal, membutuhkan air bersih dan membuang air kotor tentunya. Akibatnya, semakin banyak bangunan dibuat, semakin tinggi peluang air menggenang, semakin besar jumlah limbah yang dibuang.




Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan. Masalah yang pertama yaitu, masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial merusak lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya pembagian fungsi sungai secara jelas. Saluran drainase dan sanitasi harus terpisah. Masing-masing perlu solusi yang konkret.

Masyarakat dan pemerintah perlu bersinergi dan peduli pada lingkungannya.Untuk sistem drainase, pembuatan sumur resapan dan kolam konservasi adalah solusinya, baik itu secara pribadi (per bangunan) atau massal. Pemerintah saat ini sedang giat dalam usaha membangun ”embung”. Embung ini diharapkan mampu menampung air hujan yang turun agar tidak langsung terbuang. Usaha ini perlu didukung masyarakat agar masalah pemeliharaannya dapat berlangsung.

Sementara itu, sungguh sulit untuk menggalakkan pembuatan sumur resapan pribadi. Saat ini kebanyakan permukiman dan bangunan tidak membuat sumur peresapan, padahal menurut IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), setiap bangunan harus memilikinya, ketentuan ini tercantum dalam Perda No. 4 tahun 1988. Jadi, seharusnya air hujan yang mengalir/melimpas dari bangunan turun ke tanah, diresapkan lewat sumur resapan, lalu baru sisanya dibuang ke SAH (Saluran Air Hujan).

Memang sulit untuk mulai menggalakkan pembuatan sumur resapan, kondisi ini disebabkan juga oleh keterbatasan lahan di kota. Padahal, setelah dikulik lebih lanjut, ternyata sumur resapan merupakan warisan teknologi tradisional, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah leaflet ”sosialisasi sumur resapan” milik Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah), “ Sumur peresapan air hujan, …secara konsep sistem ini merupakan teknologi nenek moyang yang diekpresikan dengan 'tabu' menimbun sumur yang oleh suatu sebab tidak berfungsi lagi dan pada umumnya dimanfaatkan untuk menampung air hujan dari halaman di sekitarnya. Begitulah kebiasaan-kebiasaan masyarakat di pedesaan dengan membuat lubang-lubang di halaman yang secara teknis dapat di terjemahkan sebagai retarding basin (kolam penunda aliran air-red) dan sekaligus berfungsi sebagai artificial recharge (pengisi air buatan-red).”

Usaha pembuatan sumur resapan ini harus mulai digalakkan sejak saat ini. Sebuah desa di sebelah utara kota Yogya telah menggunakan teknologi tradisional sumur resapan ini. Lewat berbagai modifikasi, warga desa wisata Tanjung, Sleman, telah berhasil membangun 20 sumur resapan. Pembuatan sumur resapan ini dibantu oleh lembaga GGWRM (Good Government in Water Resources Management), Uni Eropa. ”Akhir November 2004, kita akan merampungkan 20 sumur baru lagi bantuan dari Bapedalda, jadi akhir Desember kita sudah punya 20 sumur resapan,” ungkap Jamhadi, ketua umum desa wisata Tanjung.

Prinsip sumur resapan yang diterapkan di desa Tanjung sebenarnya sederhana. Pertama, kita butuh lahan ukuran 2 X 2 m. ”Di areal itu digali, dimasuki buis beton ke dalam, diberi tutup semen, di sebelah tumpukan buis beton tadi diberi bak kontrol semen ukuran 0,7 X 0,7 m, bak itu diberi tutup juga. Di samping bak kontrol, ditanam grass block di permukaan tanah, diberi rumput sebagai penyaring,” ucap Sutoyo, salah seorang warga desa tanjung. ”Cara kerjanya, air hujan turun dari tritisan rumah, menuju grass block, tersaring, kemudian masuk ke bak kontrol dan akhirnya masuk ke buis tadi dan meresap ke dalam tanah,” tambahnya.

Teknologi tradisional nan murah di desa Tanjung ini seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi desa-desa lain. Lewat gotong-royong warga, kita juga bisa menyelamatkan lingkungan dari tempat kita berpijak. Tanpa disadari, air yang diresapkan warga desa Tanjung ini, nantinya akan memperbaiki siklus air kota secara keseluruhan. Mengesankan.

Permasalahan kedua yang muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendiri-sendiri. Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh. Sebagai contoh, saluran drainase di Jalan Parangtritis di sebelah utara dan selatan Ring Road. Area saluran ini terletak di dua wilayah administrasi yang berbeda, sebelah Utara wewenang Kodya Yogyakarta, sedangkan selatan wewenang kabupaten Bantul. Tidak mungkin Kodya hanya menangani wilayahnya saja dan tidak bertanggung jawab atas aliran air ke Bantul. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan saluran-saluran di masing-masing wilayah dan juga kerjasama yang terpadu.

Seperti diungkapkan Ir. Toto Subroto, Kepala Sub Dinas Prasarana Pengairan dan Drainase Kota Yogyakarta, ”Dinas Prasarana Kota Yogyakarta saat ini sedang melaksanakan berbagai perubahan saluran drainase”. Pada tahun anggaran lalu, Dinas Prasarana Kota sudah mencoba memperbaiki saluran drainase di berbagai tempat. Di sebelah timur misalnya, di Jl. Sudarsono, di dekat rel kereta api, Timoho, saluran drainase dari utara di-sudet ke arah timur dan dialirkan ke Sungai Gajah Wong, agar debit air ke selatan tidak bertambah besar. Di sebelah Barat, di Jl. HOS Cokroaminoto, saluran drainase di-sudet ke barat dan diarahkan ke sungai Winongo. Sudetan ini juga dimaksudkan agar air yang masuk ke kota lebih sedikit. Selain itu, agar kawasan Pakuncen juga tidak tergenang air karena relief tanahnya yang relatif cekung. Lain lagi di sebelah selatan, di Jl. Sorogenen, air di-sudet ke barat agar masuk ke sungai Code. Di tengah kota, di Gayam, air dari Sungai Belik di-sudet ke arah sungai Gajah Wong agar mencegah terjadinya banjir di Jl. Batikan.

”Sebenarnya kami masih ingin melakukan perbaikan di banyak tempat lagi, tapi semua kegiatan pemerintah selalu berhadapan dengan skala prioritas,” ungkap Toto. ”Ada 4 prioritas dalam kegiatan kami saat ini. Prioritas pertama, kegiatan berhubungan dengan keselamatan jiwa. Kedua, kegiatan yang bila tidak ditangani akan menimbulkan dampak kerusakan yang lebih meluas. Ketiga, kegiatan yang bersumber pada masukan masyarakat, butuhnya apa? Keempat, kegiatan berorientasi keindahan dan kerapian”. Jelas Toto. ”Itu makanya, rencana pemerintah membuat ini-itu sering tertunda, karena terbentur skala prioritas, kalau mau bikin saluran drainase, eh ternyata ada talud yang jebol dan itu membahayakan jiwa manusia, ya itu yang didahulukan”, tambah Toto.

Setelah perbaikan di masing-masing wilayah, masalah sinkronisasi dan koordinasi saluran drainase menjadi sangat penting diagendakan. Untuk itu, pemerintah saat ini sedang mengusahakan sebuah lembaga koordinasi secara bersama-sama. ”Sekber Kartamantul” (Sekretariat Bersama Yogyakarta-Sleman-Bantul) adalah salah satu hasil kerja bareng antar wilayah administratif. Sekber ini mengarahkan lembaganya pada kerjasama pengelolaan prasarana dan sarana perkotaan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Selain saluran drainase di Jalan Parangtritis, Menukan dan Sisingamangaraja, Sekber juga mendorong perbaikan saluran drainase di Jalan Dongkelan, Karanglo, Jambon, Magelang dan AM Sangaji. Di Kelurahan Singosaren, Bantul, lewat Sekber, kini Pemerintah Kota Yogyakarta akan meneruskan membangun saluran drainase yang terhenti di kota.

Di Yogyakarta, Sekber Kartamantul ini didukung oleh Lembaga Kerjasama Teknis Jerman, GTZ (Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit) Urban Quality. Keberadaan GTZ ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan Sekber. Bukan hanya itu, Yogyakarta juga mendapat bantuan konsultan teknis lewat proyek kerjasama dengan Swiss, YUIMS (Yogyakarta Urban Infrastructure Management Support) atau YUDP (Yogyakarta Urban Development Project).

Untuk memperbaiki siklus alami air, saat ini Bapedalda juga membantu untuk menyumbang dana bagi pembangunan sumur-sumur resapan dan atau penanaman kembali bibit-bibit pohon di sepanjang bantaran sungai. Bantuan ini secara konkret antara lain diberikan kepada desa Tanjung (Sleman), Markurejo (Kalasan), Wonosalam, Panggungharjo (Bantul) dan desa lainnya, yang secara keseluruhan berjumlah 9 lokasi.

Sistem Sanitasi, ”Yang Dibuang” Sayang

Sama halnya dengan drainase, sistem sanitasi juga memiliki permasalahan dan kendala tersendiri. Secara konsep, sistem sanitasi yang diterapkan di perkotaan seharusnya terpadu, komunal atau terpusat, jadi limbah dan saluran air kotor dapat diolah dengan teratur. Saluran-saluran yang membentuk jaringan sanitasi harus diarahkan pada kawasan pengolahan tersendiri, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air limbah). Melalui IPAL, warga kota bisa merasa nyaman karena tak perlu lagi membuang air kotor secara sembarangan. IPAL ini tidak hanya diperuntukkan bagi limbah rumah tangga, tetapi juga bagi sentra industri-industri, baik kecil atau besar. Jika konsep ini tercapai, wah, berarti tak perlu khawatir lagi air sehari-hari kita akan tercemar. Kini pertanyaannya, apakah konsep ini mampu berjalan di alur yang kita inginkan?





Sistem sanitasi selalu terkait dengan masalah limbah dan saluran air kotor. Sebagai kota dengan segudang predikat, praktis Yogyakarta menyangga berbagai keberagaman aktivitas manusia sebagai penghasil limbah. Mulai dari limbah rumah tangga (mandi, kakus, mencuci atau memasak), perkantoran, sekolah, universitas, hotel, rumah makan, mall, sampai dengan industri skala kecil dan besar. “Dari data monitoring kami, industri yang tercatat di Yogya sejumlah 932, kegiatan pelayanan kesehatan (rumah sakit, laboratorium kesehatan, balai kesehatan dll) sejumlah 197, kegiatan jasa/pariwisata, khususnya hotel 231. Data ini masih kami kembangkan lagi karena masih banyak yang belum tercatat. Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang belum terdeteksi seperti usaha bengkel dan salon misalnya. Ini membuktikan eksplorasi sumber daya air yang luar biasa, sedangkan upaya pengembalian keseimbangan air bersih masih kecil, baik itu air permukaan ataupun air tanah,” jelas Ir. Endro Waluyo, Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Bapedalda.

Endro menambahkan, saat ini mayoritas universitas-universitas di Yogya pun juga masih belum memiliki IPAL dan sumur peresapan sendiri. Padahal dengan daerah gedung yang luas ditambah dengan adanya laboratorium, pengolahan air mandiri mutlak diperlukan.

Di Yogyakarta, saluran limbah cair dari perkotaan sebagian besar dialirkan ke IPAL Sewon, Bantul. Sedangkan sisanya, saluran-saluran air kotor masih tetap mengandalkan sungai dan septictank yang non kedap air. Sungai-sungai dijadikan tempat ”pelarian”, akibatnya, sungai tidak lagi bersih dan ini memperburuk siklus air secara alamiah. Beban kota masih ditambah lagi dengan air tanah kota yang tak lagi sehat, septictank non kedap air mengakibatkan merembesnya limbah dan bercampur dengan air tanah. Limbah ”berjabat tangan” dengan air tanah yang sehari-hari kita perlukan.

Agar perkotaan kita tetap sehat, masalah-masalah sanitasi harus menjadi perhatian serius pemerintah beserta dengan warganya. ”Jogjaku Bersih” harus menjadi slogan yang mampu diwujudkan. Hal ini senada dengan penjelasan Pieter Lawoasal, Kepala Seksi Pemantauan dan Pemulihan KPDL (Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan), ”Kami (KPDL-red) sekarang ini baru fokus ke IPAL komunal/domestik yang dirancang untuk menjaga air sungai dan air tanah yang ada di Yogya, khususnya untuk masyarakat yang ada di pinggir sungai”.

Bagi Pieter, penting untuk menyadarkan masyarakat yang bermukim di pinggiran sungai-sungai karena cukup banyak warga yang membuang limbah langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Maka dari itu, perlu antisipasi seperti pembuatan septictank. “Masih banyak pula masyarakat yang ¾ maaf ¾ mekong (mepe bokong, buang kakus sambil jongkok-red) di sungai”, ujar Pieter tersenyum.

Menanggapi fenomena lingkungan yang cukup meresahkan ini, KPDL telah berinisiatif untuk membangun IPAL-IPAL komunal di berbagai tempat di Yogyakarta. IPAL komunal ini dibuat dengan tujuan agar masyarakat sadar dan turut terlibat dalam hal kepedulian lingkungan. Selain itu, IPAL komunal memang lebih murah dan ringkas daripada membuat septictank pribadi. Diharapkan, pembuatan IPAL-IPAL ini mampu menjadi pilot project bagi daerah-daerah lainnya juga. ”Karena ini pilot project, jadi untuk mencapai kesempurnaan pembuatan IPAL membutuhkan waktu yang cukup lama. Sejak tahun 2000, kami sudah mulai buat IPAL di beberapa lokasi, tapi hasilnya tidak memuaskan, baru tahun 2003-2004 ini mulai baik, jadi membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun untuk mencapai yang lebih baik”, ujar Pieter. Pieter juga menambahkan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini dapat digunakan untuk skala 50-100 keluarga, dengan harapan agar setelah dibuang ke sungai, air sudah memenuhi baku mutu standar SK Gubernur nomor 214 tentang baku mutu air sungai.

Cara yang digunakan KPDL dalam membuat IPAL Komunal pun tidak semata-mata membangun “sepihak”. Masyarakat dilibatkan bersama-sama. Pemerintah yang memberi dana, konsultan, dan memberi contoh bentuk, sedangkan yang melaksanakan adalah masyarakat setempat. Dananya pun dikelola oleh mereka, sehingga kekurangan yang ada ditanggung oleh masyarakat sebagai pengelola. “Bahkan pernah pembuatan IPAL ini, 50 % dananya dari masyarakat daerah itu sendiri. Bagi pemerintah, ini merupakan partisipasi dari masyarakat yang sangat besar”, ucap Pieter bersemangat. Pemerintah tetap memberi konsultan yang membantu, tapi tanggung jawab pembangunan diberikan penuh kepada masyarakat. Pieter juga memberi kebebasan apabila masyarakat merasa tidak membutuhkan atau merasa kurang sreg (yakin-red) dengan konsultan teknis dari pemerintah, masyarakat tidak perlu memakai jasa konsultan tersebut.

Beberapa IPAL komunal yang telah dibantu oleh KPDL antara lain di daerah Serangan, Patangpuluhan, Bumijo, Pringgan (Kotagede), Tegalrejo dan di Rusunawa (Rumah Susun Sewa Sederhana) dekat Hotel Melia.

Mengenai teknis perancangan, Pieter menjelaskan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini berbeda dengan septictank pada umumnya. IPAL yang dibuat, sengaja dirancang kedap air, agar air limbah jangan meresap ke dalam tanah. Jadi nantinya, limbah yang dibuang dapat disedot kembali, atau diolah sebagai pupuk.

Soal olah-mengolah limbah, warga Prawirodirjan bahkan telah memulai usaha kreatif ini. “Di RT 7, 8, 9 di Prawirodirjan ini, kami mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk. Anak-anak muda banyak yang terlibat. Bukan itu saja, bahkan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) komunal kami juga akan dibuat proyek “biogas”. Belum pasti kapan, tapi yang jelas, nantinya limbah ini dapat digunakan untuk menghasilkan panas/api, sehingga ada semacam “dapur bersama” di kampung ini,” jelas Suhayatmojo, Sekretaris Kelurahan Prawirodirjan. Melalui contoh usaha kreatif ini, masyarakat dapat mulai untuk minimal peduli dengan lingkungan desanya sendiri. Yang dibuang sayang, usaha ini pantas ditumbuhkembangkan.

Anonim mengatakan...

JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANNYA

1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :

• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :

1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose

Beberapa jenis air buangan tercampur

• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:

1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage




Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :

1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.

2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.

3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran

5. reklamasi

6. limbah sampah dan pasang surut

c) Penanganan drainase perkotaan :

1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.









2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.

c. Drainase Lapangan Olahraga

Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.







LAYAKNYA berondongan peluru, makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.

Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.

Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.

Drainase dan sanitasi perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sedangkan sistem sanitasi berarti sistem pengendali tingkat higienis, kebersihan dan kesehatan air.

Idealnya, pada rencana induk kota, kedua alur sistem ini harus dipisah. Sistem drainase harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Pun sistem sanitasi, karena sebagian besar berhubungan dengan limbah, maka perlu diusahakan saluran yang benar-benar sehat agar nantinya dapat diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan output-nya memenuhi standar baku air.

Sebagai sistem, penanganan drainase maupun sanitasi tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.

Modal Alami Yogyakarta, Air Mudah Mengalir

Secara geografis, Propinsi Yogyakarta membentang dari batas utara Gunung Merapi sampai dengan batas selatan Samudra Indonesia. Topografi Yogyakarta membentang dari kontur tanah tinggi ke rendah. Untuk pengaliran air, kondisi ini jelas menguntungkan dan tidak membutuhkan rekayasa bangunan sipil yang istimewa. Selain itu, Yogyakarta juga memiliki 3 sungai utama yang membelah wilayah perkotaan. Sungai-sungai tersebut adalah Winongo di sisi barat, Code di sisi tengah dan Gajah Wong di sisi timur. Keunikan alami lainnya, jenis tanah di Yogyakarta adalah tanah berpasir, hal ini karena adanya keberadaan gunung vulkanik. Dengan tanah berpasir, air yang menggenang lebih mudah meresapnya.

Yogya juga memiliki beberapa mata air di sisi utara kota. Modal ini ditambah lagi dengan konsep tradisional masyarakat pinggir sungai dalam memelihara konservasi air. Konsep ini biasa disebut dengan Mbelik. Mbelik adalah sisi pinggir sungai yang menghasilkan mata air kecil dari resapan tanah atau pepohonan. Masyarakat biasanya membatasi daerah ini dengan gundukan tanah atau semen. Daerah tetesan air dicekungi agar air menggenang dan dapat digunakan.

Lewat paparan ini, jelas sudah bahwa sebenarnya Yogyakarta merupakan daerah yang serba kecukupan dan tidak rumit pengelolaan airnya. Masalah drainase dan sanitasi muncul ketika manusia tidak lagi bijaksana menjaga ekosistem. Konsep-konsep tradisional ini diganti ke konsep modern yang setengah hati. Sementara penduduk bertambah banyak, rencana induk kota kurang tersosialisasi kepada masyarakat. Sebaliknya, respon masyarakat terhadap kebijakan kota juga ragu-ragu.



Sistem Drainase Saat Ini, Tergesa Membuang Air

Konsep utama drainase di kota Yogyakarta, secara konvensional mengandalkan 3 sungai utama. Air dari daerah tangkapan (catchment area) dibuang ke sungai lewat jaringan drainase. Seiring dengan bertambahnya permukiman dan pusat kegiatan masyarakat, air yang mengalir di kota semakin sulit meresap dan semakin mudah melimpas (run off). Tanah, sebagai peresap alami air, diganti dengan semen, aspal dan beton. Perubahan-perubahan alam ini terjadi karena peningkatan kebutuhan dan aktivitas masyarakat. Faktor-faktor lain seperti keterdesakan ruang ekonomi, juga mendorong orang untuk berurbanisasi, meninggalkan ”gaya lama” dan pindah ke kota, membangun tempat tinggal, membutuhkan air bersih dan membuang air kotor tentunya. Akibatnya, semakin banyak bangunan dibuat, semakin tinggi peluang air menggenang, semakin besar jumlah limbah yang dibuang.




Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan. Masalah yang pertama yaitu, masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial merusak lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya pembagian fungsi sungai secara jelas. Saluran drainase dan sanitasi harus terpisah. Masing-masing perlu solusi yang konkret.

Masyarakat dan pemerintah perlu bersinergi dan peduli pada lingkungannya.Untuk sistem drainase, pembuatan sumur resapan dan kolam konservasi adalah solusinya, baik itu secara pribadi (per bangunan) atau massal. Pemerintah saat ini sedang giat dalam usaha membangun ”embung”. Embung ini diharapkan mampu menampung air hujan yang turun agar tidak langsung terbuang. Usaha ini perlu didukung masyarakat agar masalah pemeliharaannya dapat berlangsung.

Sementara itu, sungguh sulit untuk menggalakkan pembuatan sumur resapan pribadi. Saat ini kebanyakan permukiman dan bangunan tidak membuat sumur peresapan, padahal menurut IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), setiap bangunan harus memilikinya, ketentuan ini tercantum dalam Perda No. 4 tahun 1988. Jadi, seharusnya air hujan yang mengalir/melimpas dari bangunan turun ke tanah, diresapkan lewat sumur resapan, lalu baru sisanya dibuang ke SAH (Saluran Air Hujan).

Memang sulit untuk mulai menggalakkan pembuatan sumur resapan, kondisi ini disebabkan juga oleh keterbatasan lahan di kota. Padahal, setelah dikulik lebih lanjut, ternyata sumur resapan merupakan warisan teknologi tradisional, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah leaflet ”sosialisasi sumur resapan” milik Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah), “ Sumur peresapan air hujan, …secara konsep sistem ini merupakan teknologi nenek moyang yang diekpresikan dengan 'tabu' menimbun sumur yang oleh suatu sebab tidak berfungsi lagi dan pada umumnya dimanfaatkan untuk menampung air hujan dari halaman di sekitarnya. Begitulah kebiasaan-kebiasaan masyarakat di pedesaan dengan membuat lubang-lubang di halaman yang secara teknis dapat di terjemahkan sebagai retarding basin (kolam penunda aliran air-red) dan sekaligus berfungsi sebagai artificial recharge (pengisi air buatan-red).”

Usaha pembuatan sumur resapan ini harus mulai digalakkan sejak saat ini. Sebuah desa di sebelah utara kota Yogya telah menggunakan teknologi tradisional sumur resapan ini. Lewat berbagai modifikasi, warga desa wisata Tanjung, Sleman, telah berhasil membangun 20 sumur resapan. Pembuatan sumur resapan ini dibantu oleh lembaga GGWRM (Good Government in Water Resources Management), Uni Eropa. ”Akhir November 2004, kita akan merampungkan 20 sumur baru lagi bantuan dari Bapedalda, jadi akhir Desember kita sudah punya 20 sumur resapan,” ungkap Jamhadi, ketua umum desa wisata Tanjung.

Prinsip sumur resapan yang diterapkan di desa Tanjung sebenarnya sederhana. Pertama, kita butuh lahan ukuran 2 X 2 m. ”Di areal itu digali, dimasuki buis beton ke dalam, diberi tutup semen, di sebelah tumpukan buis beton tadi diberi bak kontrol semen ukuran 0,7 X 0,7 m, bak itu diberi tutup juga. Di samping bak kontrol, ditanam grass block di permukaan tanah, diberi rumput sebagai penyaring,” ucap Sutoyo, salah seorang warga desa tanjung. ”Cara kerjanya, air hujan turun dari tritisan rumah, menuju grass block, tersaring, kemudian masuk ke bak kontrol dan akhirnya masuk ke buis tadi dan meresap ke dalam tanah,” tambahnya.

Teknologi tradisional nan murah di desa Tanjung ini seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi desa-desa lain. Lewat gotong-royong warga, kita juga bisa menyelamatkan lingkungan dari tempat kita berpijak. Tanpa disadari, air yang diresapkan warga desa Tanjung ini, nantinya akan memperbaiki siklus air kota secara keseluruhan. Mengesankan.

Permasalahan kedua yang muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendiri-sendiri. Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh. Sebagai contoh, saluran drainase di Jalan Parangtritis di sebelah utara dan selatan Ring Road. Area saluran ini terletak di dua wilayah administrasi yang berbeda, sebelah Utara wewenang Kodya Yogyakarta, sedangkan selatan wewenang kabupaten Bantul. Tidak mungkin Kodya hanya menangani wilayahnya saja dan tidak bertanggung jawab atas aliran air ke Bantul. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan saluran-saluran di masing-masing wilayah dan juga kerjasama yang terpadu.

Seperti diungkapkan Ir. Toto Subroto, Kepala Sub Dinas Prasarana Pengairan dan Drainase Kota Yogyakarta, ”Dinas Prasarana Kota Yogyakarta saat ini sedang melaksanakan berbagai perubahan saluran drainase”. Pada tahun anggaran lalu, Dinas Prasarana Kota sudah mencoba memperbaiki saluran drainase di berbagai tempat. Di sebelah timur misalnya, di Jl. Sudarsono, di dekat rel kereta api, Timoho, saluran drainase dari utara di-sudet ke arah timur dan dialirkan ke Sungai Gajah Wong, agar debit air ke selatan tidak bertambah besar. Di sebelah Barat, di Jl. HOS Cokroaminoto, saluran drainase di-sudet ke barat dan diarahkan ke sungai Winongo. Sudetan ini juga dimaksudkan agar air yang masuk ke kota lebih sedikit. Selain itu, agar kawasan Pakuncen juga tidak tergenang air karena relief tanahnya yang relatif cekung. Lain lagi di sebelah selatan, di Jl. Sorogenen, air di-sudet ke barat agar masuk ke sungai Code. Di tengah kota, di Gayam, air dari Sungai Belik di-sudet ke arah sungai Gajah Wong agar mencegah terjadinya banjir di Jl. Batikan.

”Sebenarnya kami masih ingin melakukan perbaikan di banyak tempat lagi, tapi semua kegiatan pemerintah selalu berhadapan dengan skala prioritas,” ungkap Toto. ”Ada 4 prioritas dalam kegiatan kami saat ini. Prioritas pertama, kegiatan berhubungan dengan keselamatan jiwa. Kedua, kegiatan yang bila tidak ditangani akan menimbulkan dampak kerusakan yang lebih meluas. Ketiga, kegiatan yang bersumber pada masukan masyarakat, butuhnya apa? Keempat, kegiatan berorientasi keindahan dan kerapian”. Jelas Toto. ”Itu makanya, rencana pemerintah membuat ini-itu sering tertunda, karena terbentur skala prioritas, kalau mau bikin saluran drainase, eh ternyata ada talud yang jebol dan itu membahayakan jiwa manusia, ya itu yang didahulukan”, tambah Toto.

Setelah perbaikan di masing-masing wilayah, masalah sinkronisasi dan koordinasi saluran drainase menjadi sangat penting diagendakan. Untuk itu, pemerintah saat ini sedang mengusahakan sebuah lembaga koordinasi secara bersama-sama. ”Sekber Kartamantul” (Sekretariat Bersama Yogyakarta-Sleman-Bantul) adalah salah satu hasil kerja bareng antar wilayah administratif. Sekber ini mengarahkan lembaganya pada kerjasama pengelolaan prasarana dan sarana perkotaan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Selain saluran drainase di Jalan Parangtritis, Menukan dan Sisingamangaraja, Sekber juga mendorong perbaikan saluran drainase di Jalan Dongkelan, Karanglo, Jambon, Magelang dan AM Sangaji. Di Kelurahan Singosaren, Bantul, lewat Sekber, kini Pemerintah Kota Yogyakarta akan meneruskan membangun saluran drainase yang terhenti di kota.

Di Yogyakarta, Sekber Kartamantul ini didukung oleh Lembaga Kerjasama Teknis Jerman, GTZ (Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit) Urban Quality. Keberadaan GTZ ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan Sekber. Bukan hanya itu, Yogyakarta juga mendapat bantuan konsultan teknis lewat proyek kerjasama dengan Swiss, YUIMS (Yogyakarta Urban Infrastructure Management Support) atau YUDP (Yogyakarta Urban Development Project).

Untuk memperbaiki siklus alami air, saat ini Bapedalda juga membantu untuk menyumbang dana bagi pembangunan sumur-sumur resapan dan atau penanaman kembali bibit-bibit pohon di sepanjang bantaran sungai. Bantuan ini secara konkret antara lain diberikan kepada desa Tanjung (Sleman), Markurejo (Kalasan), Wonosalam, Panggungharjo (Bantul) dan desa lainnya, yang secara keseluruhan berjumlah 9 lokasi.

Sistem Sanitasi, ”Yang Dibuang” Sayang

Sama halnya dengan drainase, sistem sanitasi juga memiliki permasalahan dan kendala tersendiri. Secara konsep, sistem sanitasi yang diterapkan di perkotaan seharusnya terpadu, komunal atau terpusat, jadi limbah dan saluran air kotor dapat diolah dengan teratur. Saluran-saluran yang membentuk jaringan sanitasi harus diarahkan pada kawasan pengolahan tersendiri, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air limbah). Melalui IPAL, warga kota bisa merasa nyaman karena tak perlu lagi membuang air kotor secara sembarangan. IPAL ini tidak hanya diperuntukkan bagi limbah rumah tangga, tetapi juga bagi sentra industri-industri, baik kecil atau besar. Jika konsep ini tercapai, wah, berarti tak perlu khawatir lagi air sehari-hari kita akan tercemar. Kini pertanyaannya, apakah konsep ini mampu berjalan di alur yang kita inginkan?





Sistem sanitasi selalu terkait dengan masalah limbah dan saluran air kotor. Sebagai kota dengan segudang predikat, praktis Yogyakarta menyangga berbagai keberagaman aktivitas manusia sebagai penghasil limbah. Mulai dari limbah rumah tangga (mandi, kakus, mencuci atau memasak), perkantoran, sekolah, universitas, hotel, rumah makan, mall, sampai dengan industri skala kecil dan besar. “Dari data monitoring kami, industri yang tercatat di Yogya sejumlah 932, kegiatan pelayanan kesehatan (rumah sakit, laboratorium kesehatan, balai kesehatan dll) sejumlah 197, kegiatan jasa/pariwisata, khususnya hotel 231. Data ini masih kami kembangkan lagi karena masih banyak yang belum tercatat. Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang belum terdeteksi seperti usaha bengkel dan salon misalnya. Ini membuktikan eksplorasi sumber daya air yang luar biasa, sedangkan upaya pengembalian keseimbangan air bersih masih kecil, baik itu air permukaan ataupun air tanah,” jelas Ir. Endro Waluyo, Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Bapedalda.

Endro menambahkan, saat ini mayoritas universitas-universitas di Yogya pun juga masih belum memiliki IPAL dan sumur peresapan sendiri. Padahal dengan daerah gedung yang luas ditambah dengan adanya laboratorium, pengolahan air mandiri mutlak diperlukan.

Di Yogyakarta, saluran limbah cair dari perkotaan sebagian besar dialirkan ke IPAL Sewon, Bantul. Sedangkan sisanya, saluran-saluran air kotor masih tetap mengandalkan sungai dan septictank yang non kedap air. Sungai-sungai dijadikan tempat ”pelarian”, akibatnya, sungai tidak lagi bersih dan ini memperburuk siklus air secara alamiah. Beban kota masih ditambah lagi dengan air tanah kota yang tak lagi sehat, septictank non kedap air mengakibatkan merembesnya limbah dan bercampur dengan air tanah. Limbah ”berjabat tangan” dengan air tanah yang sehari-hari kita perlukan.

Agar perkotaan kita tetap sehat, masalah-masalah sanitasi harus menjadi perhatian serius pemerintah beserta dengan warganya. ”Jogjaku Bersih” harus menjadi slogan yang mampu diwujudkan. Hal ini senada dengan penjelasan Pieter Lawoasal, Kepala Seksi Pemantauan dan Pemulihan KPDL (Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan), ”Kami (KPDL-red) sekarang ini baru fokus ke IPAL komunal/domestik yang dirancang untuk menjaga air sungai dan air tanah yang ada di Yogya, khususnya untuk masyarakat yang ada di pinggir sungai”.

Bagi Pieter, penting untuk menyadarkan masyarakat yang bermukim di pinggiran sungai-sungai karena cukup banyak warga yang membuang limbah langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Maka dari itu, perlu antisipasi seperti pembuatan septictank. “Masih banyak pula masyarakat yang ¾ maaf ¾ mekong (mepe bokong, buang kakus sambil jongkok-red) di sungai”, ujar Pieter tersenyum.

Menanggapi fenomena lingkungan yang cukup meresahkan ini, KPDL telah berinisiatif untuk membangun IPAL-IPAL komunal di berbagai tempat di Yogyakarta. IPAL komunal ini dibuat dengan tujuan agar masyarakat sadar dan turut terlibat dalam hal kepedulian lingkungan. Selain itu, IPAL komunal memang lebih murah dan ringkas daripada membuat septictank pribadi. Diharapkan, pembuatan IPAL-IPAL ini mampu menjadi pilot project bagi daerah-daerah lainnya juga. ”Karena ini pilot project, jadi untuk mencapai kesempurnaan pembuatan IPAL membutuhkan waktu yang cukup lama. Sejak tahun 2000, kami sudah mulai buat IPAL di beberapa lokasi, tapi hasilnya tidak memuaskan, baru tahun 2003-2004 ini mulai baik, jadi membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun untuk mencapai yang lebih baik”, ujar Pieter. Pieter juga menambahkan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini dapat digunakan untuk skala 50-100 keluarga, dengan harapan agar setelah dibuang ke sungai, air sudah memenuhi baku mutu standar SK Gubernur nomor 214 tentang baku mutu air sungai.

Cara yang digunakan KPDL dalam membuat IPAL Komunal pun tidak semata-mata membangun “sepihak”. Masyarakat dilibatkan bersama-sama. Pemerintah yang memberi dana, konsultan, dan memberi contoh bentuk, sedangkan yang melaksanakan adalah masyarakat setempat. Dananya pun dikelola oleh mereka, sehingga kekurangan yang ada ditanggung oleh masyarakat sebagai pengelola. “Bahkan pernah pembuatan IPAL ini, 50 % dananya dari masyarakat daerah itu sendiri. Bagi pemerintah, ini merupakan partisipasi dari masyarakat yang sangat besar”, ucap Pieter bersemangat. Pemerintah tetap memberi konsultan yang membantu, tapi tanggung jawab pembangunan diberikan penuh kepada masyarakat. Pieter juga memberi kebebasan apabila masyarakat merasa tidak membutuhkan atau merasa kurang sreg (yakin-red) dengan konsultan teknis dari pemerintah, masyarakat tidak perlu memakai jasa konsultan tersebut.

Beberapa IPAL komunal yang telah dibantu oleh KPDL antara lain di daerah Serangan, Patangpuluhan, Bumijo, Pringgan (Kotagede), Tegalrejo dan di Rusunawa (Rumah Susun Sewa Sederhana) dekat Hotel Melia.

Mengenai teknis perancangan, Pieter menjelaskan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini berbeda dengan septictank pada umumnya. IPAL yang dibuat, sengaja dirancang kedap air, agar air limbah jangan meresap ke dalam tanah. Jadi nantinya, limbah yang dibuang dapat disedot kembali, atau diolah sebagai pupuk.

Soal olah-mengolah limbah, warga Prawirodirjan bahkan telah memulai usaha kreatif ini. “Di RT 7, 8, 9 di Prawirodirjan ini, kami mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk. Anak-anak muda banyak yang terlibat. Bukan itu saja, bahkan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) komunal kami juga akan dibuat proyek “biogas”. Belum pasti kapan, tapi yang jelas, nantinya limbah ini dapat digunakan untuk menghasilkan panas/api, sehingga ada semacam “dapur bersama” di kampung ini,” jelas Suhayatmojo, Sekretaris Kelurahan Prawirodirjan. Melalui contoh usaha kreatif ini, masyarakat dapat mulai untuk minimal peduli dengan lingkungan desanya sendiri. Yang dibuang sayang, usaha ini pantas ditumbuhkembangkan.

Anonim mengatakan...

JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANNYA

1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :

• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :

1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose

Beberapa jenis air buangan tercampur

• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:

1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage




Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :

1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.

2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.

3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran

5. reklamasi

6. limbah sampah dan pasang surut

c) Penanganan drainase perkotaan :

1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.









2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.

c. Drainase Lapangan Olahraga

Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.







LAYAKNYA berondongan peluru, makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.

Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.

Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.

Drainase dan sanitasi perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sedangkan sistem sanitasi berarti sistem pengendali tingkat higienis, kebersihan dan kesehatan air.

Idealnya, pada rencana induk kota, kedua alur sistem ini harus dipisah. Sistem drainase harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Pun sistem sanitasi, karena sebagian besar berhubungan dengan limbah, maka perlu diusahakan saluran yang benar-benar sehat agar nantinya dapat diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan output-nya memenuhi standar baku air.

Sebagai sistem, penanganan drainase maupun sanitasi tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.

Modal Alami Yogyakarta, Air Mudah Mengalir

Secara geografis, Propinsi Yogyakarta membentang dari batas utara Gunung Merapi sampai dengan batas selatan Samudra Indonesia. Topografi Yogyakarta membentang dari kontur tanah tinggi ke rendah. Untuk pengaliran air, kondisi ini jelas menguntungkan dan tidak membutuhkan rekayasa bangunan sipil yang istimewa. Selain itu, Yogyakarta juga memiliki 3 sungai utama yang membelah wilayah perkotaan. Sungai-sungai tersebut adalah Winongo di sisi barat, Code di sisi tengah dan Gajah Wong di sisi timur. Keunikan alami lainnya, jenis tanah di Yogyakarta adalah tanah berpasir, hal ini karena adanya keberadaan gunung vulkanik. Dengan tanah berpasir, air yang menggenang lebih mudah meresapnya.

Yogya juga memiliki beberapa mata air di sisi utara kota. Modal ini ditambah lagi dengan konsep tradisional masyarakat pinggir sungai dalam memelihara konservasi air. Konsep ini biasa disebut dengan Mbelik. Mbelik adalah sisi pinggir sungai yang menghasilkan mata air kecil dari resapan tanah atau pepohonan. Masyarakat biasanya membatasi daerah ini dengan gundukan tanah atau semen. Daerah tetesan air dicekungi agar air menggenang dan dapat digunakan.

Lewat paparan ini, jelas sudah bahwa sebenarnya Yogyakarta merupakan daerah yang serba kecukupan dan tidak rumit pengelolaan airnya. Masalah drainase dan sanitasi muncul ketika manusia tidak lagi bijaksana menjaga ekosistem. Konsep-konsep tradisional ini diganti ke konsep modern yang setengah hati. Sementara penduduk bertambah banyak, rencana induk kota kurang tersosialisasi kepada masyarakat. Sebaliknya, respon masyarakat terhadap kebijakan kota juga ragu-ragu.



Sistem Drainase Saat Ini, Tergesa Membuang Air

Konsep utama drainase di kota Yogyakarta, secara konvensional mengandalkan 3 sungai utama. Air dari daerah tangkapan (catchment area) dibuang ke sungai lewat jaringan drainase. Seiring dengan bertambahnya permukiman dan pusat kegiatan masyarakat, air yang mengalir di kota semakin sulit meresap dan semakin mudah melimpas (run off). Tanah, sebagai peresap alami air, diganti dengan semen, aspal dan beton. Perubahan-perubahan alam ini terjadi karena peningkatan kebutuhan dan aktivitas masyarakat. Faktor-faktor lain seperti keterdesakan ruang ekonomi, juga mendorong orang untuk berurbanisasi, meninggalkan ”gaya lama” dan pindah ke kota, membangun tempat tinggal, membutuhkan air bersih dan membuang air kotor tentunya. Akibatnya, semakin banyak bangunan dibuat, semakin tinggi peluang air menggenang, semakin besar jumlah limbah yang dibuang.




Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan. Masalah yang pertama yaitu, masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial merusak lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya pembagian fungsi sungai secara jelas. Saluran drainase dan sanitasi harus terpisah. Masing-masing perlu solusi yang konkret.

Masyarakat dan pemerintah perlu bersinergi dan peduli pada lingkungannya.Untuk sistem drainase, pembuatan sumur resapan dan kolam konservasi adalah solusinya, baik itu secara pribadi (per bangunan) atau massal. Pemerintah saat ini sedang giat dalam usaha membangun ”embung”. Embung ini diharapkan mampu menampung air hujan yang turun agar tidak langsung terbuang. Usaha ini perlu didukung masyarakat agar masalah pemeliharaannya dapat berlangsung.

Sementara itu, sungguh sulit untuk menggalakkan pembuatan sumur resapan pribadi. Saat ini kebanyakan permukiman dan bangunan tidak membuat sumur peresapan, padahal menurut IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), setiap bangunan harus memilikinya, ketentuan ini tercantum dalam Perda No. 4 tahun 1988. Jadi, seharusnya air hujan yang mengalir/melimpas dari bangunan turun ke tanah, diresapkan lewat sumur resapan, lalu baru sisanya dibuang ke SAH (Saluran Air Hujan).

Memang sulit untuk mulai menggalakkan pembuatan sumur resapan, kondisi ini disebabkan juga oleh keterbatasan lahan di kota. Padahal, setelah dikulik lebih lanjut, ternyata sumur resapan merupakan warisan teknologi tradisional, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah leaflet ”sosialisasi sumur resapan” milik Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah), “ Sumur peresapan air hujan, …secara konsep sistem ini merupakan teknologi nenek moyang yang diekpresikan dengan 'tabu' menimbun sumur yang oleh suatu sebab tidak berfungsi lagi dan pada umumnya dimanfaatkan untuk menampung air hujan dari halaman di sekitarnya. Begitulah kebiasaan-kebiasaan masyarakat di pedesaan dengan membuat lubang-lubang di halaman yang secara teknis dapat di terjemahkan sebagai retarding basin (kolam penunda aliran air-red) dan sekaligus berfungsi sebagai artificial recharge (pengisi air buatan-red).”

Usaha pembuatan sumur resapan ini harus mulai digalakkan sejak saat ini. Sebuah desa di sebelah utara kota Yogya telah menggunakan teknologi tradisional sumur resapan ini. Lewat berbagai modifikasi, warga desa wisata Tanjung, Sleman, telah berhasil membangun 20 sumur resapan. Pembuatan sumur resapan ini dibantu oleh lembaga GGWRM (Good Government in Water Resources Management), Uni Eropa. ”Akhir November 2004, kita akan merampungkan 20 sumur baru lagi bantuan dari Bapedalda, jadi akhir Desember kita sudah punya 20 sumur resapan,” ungkap Jamhadi, ketua umum desa wisata Tanjung.

Prinsip sumur resapan yang diterapkan di desa Tanjung sebenarnya sederhana. Pertama, kita butuh lahan ukuran 2 X 2 m. ”Di areal itu digali, dimasuki buis beton ke dalam, diberi tutup semen, di sebelah tumpukan buis beton tadi diberi bak kontrol semen ukuran 0,7 X 0,7 m, bak itu diberi tutup juga. Di samping bak kontrol, ditanam grass block di permukaan tanah, diberi rumput sebagai penyaring,” ucap Sutoyo, salah seorang warga desa tanjung. ”Cara kerjanya, air hujan turun dari tritisan rumah, menuju grass block, tersaring, kemudian masuk ke bak kontrol dan akhirnya masuk ke buis tadi dan meresap ke dalam tanah,” tambahnya.

Teknologi tradisional nan murah di desa Tanjung ini seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi desa-desa lain. Lewat gotong-royong warga, kita juga bisa menyelamatkan lingkungan dari tempat kita berpijak. Tanpa disadari, air yang diresapkan warga desa Tanjung ini, nantinya akan memperbaiki siklus air kota secara keseluruhan. Mengesankan.

Permasalahan kedua yang muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendiri-sendiri. Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh. Sebagai contoh, saluran drainase di Jalan Parangtritis di sebelah utara dan selatan Ring Road. Area saluran ini terletak di dua wilayah administrasi yang berbeda, sebelah Utara wewenang Kodya Yogyakarta, sedangkan selatan wewenang kabupaten Bantul. Tidak mungkin Kodya hanya menangani wilayahnya saja dan tidak bertanggung jawab atas aliran air ke Bantul. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan saluran-saluran di masing-masing wilayah dan juga kerjasama yang terpadu.

Seperti diungkapkan Ir. Toto Subroto, Kepala Sub Dinas Prasarana Pengairan dan Drainase Kota Yogyakarta, ”Dinas Prasarana Kota Yogyakarta saat ini sedang melaksanakan berbagai perubahan saluran drainase”. Pada tahun anggaran lalu, Dinas Prasarana Kota sudah mencoba memperbaiki saluran drainase di berbagai tempat. Di sebelah timur misalnya, di Jl. Sudarsono, di dekat rel kereta api, Timoho, saluran drainase dari utara di-sudet ke arah timur dan dialirkan ke Sungai Gajah Wong, agar debit air ke selatan tidak bertambah besar. Di sebelah Barat, di Jl. HOS Cokroaminoto, saluran drainase di-sudet ke barat dan diarahkan ke sungai Winongo. Sudetan ini juga dimaksudkan agar air yang masuk ke kota lebih sedikit. Selain itu, agar kawasan Pakuncen juga tidak tergenang air karena relief tanahnya yang relatif cekung. Lain lagi di sebelah selatan, di Jl. Sorogenen, air di-sudet ke barat agar masuk ke sungai Code. Di tengah kota, di Gayam, air dari Sungai Belik di-sudet ke arah sungai Gajah Wong agar mencegah terjadinya banjir di Jl. Batikan.

”Sebenarnya kami masih ingin melakukan perbaikan di banyak tempat lagi, tapi semua kegiatan pemerintah selalu berhadapan dengan skala prioritas,” ungkap Toto. ”Ada 4 prioritas dalam kegiatan kami saat ini. Prioritas pertama, kegiatan berhubungan dengan keselamatan jiwa. Kedua, kegiatan yang bila tidak ditangani akan menimbulkan dampak kerusakan yang lebih meluas. Ketiga, kegiatan yang bersumber pada masukan masyarakat, butuhnya apa? Keempat, kegiatan berorientasi keindahan dan kerapian”. Jelas Toto. ”Itu makanya, rencana pemerintah membuat ini-itu sering tertunda, karena terbentur skala prioritas, kalau mau bikin saluran drainase, eh ternyata ada talud yang jebol dan itu membahayakan jiwa manusia, ya itu yang didahulukan”, tambah Toto.

Setelah perbaikan di masing-masing wilayah, masalah sinkronisasi dan koordinasi saluran drainase menjadi sangat penting diagendakan. Untuk itu, pemerintah saat ini sedang mengusahakan sebuah lembaga koordinasi secara bersama-sama. ”Sekber Kartamantul” (Sekretariat Bersama Yogyakarta-Sleman-Bantul) adalah salah satu hasil kerja bareng antar wilayah administratif. Sekber ini mengarahkan lembaganya pada kerjasama pengelolaan prasarana dan sarana perkotaan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Selain saluran drainase di Jalan Parangtritis, Menukan dan Sisingamangaraja, Sekber juga mendorong perbaikan saluran drainase di Jalan Dongkelan, Karanglo, Jambon, Magelang dan AM Sangaji. Di Kelurahan Singosaren, Bantul, lewat Sekber, kini Pemerintah Kota Yogyakarta akan meneruskan membangun saluran drainase yang terhenti di kota.

Di Yogyakarta, Sekber Kartamantul ini didukung oleh Lembaga Kerjasama Teknis Jerman, GTZ (Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit) Urban Quality. Keberadaan GTZ ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan Sekber. Bukan hanya itu, Yogyakarta juga mendapat bantuan konsultan teknis lewat proyek kerjasama dengan Swiss, YUIMS (Yogyakarta Urban Infrastructure Management Support) atau YUDP (Yogyakarta Urban Development Project).

Untuk memperbaiki siklus alami air, saat ini Bapedalda juga membantu untuk menyumbang dana bagi pembangunan sumur-sumur resapan dan atau penanaman kembali bibit-bibit pohon di sepanjang bantaran sungai. Bantuan ini secara konkret antara lain diberikan kepada desa Tanjung (Sleman), Markurejo (Kalasan), Wonosalam, Panggungharjo (Bantul) dan desa lainnya, yang secara keseluruhan berjumlah 9 lokasi.

Sistem Sanitasi, ”Yang Dibuang” Sayang

Sama halnya dengan drainase, sistem sanitasi juga memiliki permasalahan dan kendala tersendiri. Secara konsep, sistem sanitasi yang diterapkan di perkotaan seharusnya terpadu, komunal atau terpusat, jadi limbah dan saluran air kotor dapat diolah dengan teratur. Saluran-saluran yang membentuk jaringan sanitasi harus diarahkan pada kawasan pengolahan tersendiri, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air limbah). Melalui IPAL, warga kota bisa merasa nyaman karena tak perlu lagi membuang air kotor secara sembarangan. IPAL ini tidak hanya diperuntukkan bagi limbah rumah tangga, tetapi juga bagi sentra industri-industri, baik kecil atau besar. Jika konsep ini tercapai, wah, berarti tak perlu khawatir lagi air sehari-hari kita akan tercemar. Kini pertanyaannya, apakah konsep ini mampu berjalan di alur yang kita inginkan?





Sistem sanitasi selalu terkait dengan masalah limbah dan saluran air kotor. Sebagai kota dengan segudang predikat, praktis Yogyakarta menyangga berbagai keberagaman aktivitas manusia sebagai penghasil limbah. Mulai dari limbah rumah tangga (mandi, kakus, mencuci atau memasak), perkantoran, sekolah, universitas, hotel, rumah makan, mall, sampai dengan industri skala kecil dan besar. “Dari data monitoring kami, industri yang tercatat di Yogya sejumlah 932, kegiatan pelayanan kesehatan (rumah sakit, laboratorium kesehatan, balai kesehatan dll) sejumlah 197, kegiatan jasa/pariwisata, khususnya hotel 231. Data ini masih kami kembangkan lagi karena masih banyak yang belum tercatat. Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang belum terdeteksi seperti usaha bengkel dan salon misalnya. Ini membuktikan eksplorasi sumber daya air yang luar biasa, sedangkan upaya pengembalian keseimbangan air bersih masih kecil, baik itu air permukaan ataupun air tanah,” jelas Ir. Endro Waluyo, Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Bapedalda.

Endro menambahkan, saat ini mayoritas universitas-universitas di Yogya pun juga masih belum memiliki IPAL dan sumur peresapan sendiri. Padahal dengan daerah gedung yang luas ditambah dengan adanya laboratorium, pengolahan air mandiri mutlak diperlukan.

Di Yogyakarta, saluran limbah cair dari perkotaan sebagian besar dialirkan ke IPAL Sewon, Bantul. Sedangkan sisanya, saluran-saluran air kotor masih tetap mengandalkan sungai dan septictank yang non kedap air. Sungai-sungai dijadikan tempat ”pelarian”, akibatnya, sungai tidak lagi bersih dan ini memperburuk siklus air secara alamiah. Beban kota masih ditambah lagi dengan air tanah kota yang tak lagi sehat, septictank non kedap air mengakibatkan merembesnya limbah dan bercampur dengan air tanah. Limbah ”berjabat tangan” dengan air tanah yang sehari-hari kita perlukan.

Agar perkotaan kita tetap sehat, masalah-masalah sanitasi harus menjadi perhatian serius pemerintah beserta dengan warganya. ”Jogjaku Bersih” harus menjadi slogan yang mampu diwujudkan. Hal ini senada dengan penjelasan Pieter Lawoasal, Kepala Seksi Pemantauan dan Pemulihan KPDL (Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan), ”Kami (KPDL-red) sekarang ini baru fokus ke IPAL komunal/domestik yang dirancang untuk menjaga air sungai dan air tanah yang ada di Yogya, khususnya untuk masyarakat yang ada di pinggir sungai”.

Bagi Pieter, penting untuk menyadarkan masyarakat yang bermukim di pinggiran sungai-sungai karena cukup banyak warga yang membuang limbah langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Maka dari itu, perlu antisipasi seperti pembuatan septictank. “Masih banyak pula masyarakat yang ¾ maaf ¾ mekong (mepe bokong, buang kakus sambil jongkok-red) di sungai”, ujar Pieter tersenyum.

Menanggapi fenomena lingkungan yang cukup meresahkan ini, KPDL telah berinisiatif untuk membangun IPAL-IPAL komunal di berbagai tempat di Yogyakarta. IPAL komunal ini dibuat dengan tujuan agar masyarakat sadar dan turut terlibat dalam hal kepedulian lingkungan. Selain itu, IPAL komunal memang lebih murah dan ringkas daripada membuat septictank pribadi. Diharapkan, pembuatan IPAL-IPAL ini mampu menjadi pilot project bagi daerah-daerah lainnya juga. ”Karena ini pilot project, jadi untuk mencapai kesempurnaan pembuatan IPAL membutuhkan waktu yang cukup lama. Sejak tahun 2000, kami sudah mulai buat IPAL di beberapa lokasi, tapi hasilnya tidak memuaskan, baru tahun 2003-2004 ini mulai baik, jadi membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun untuk mencapai yang lebih baik”, ujar Pieter. Pieter juga menambahkan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini dapat digunakan untuk skala 50-100 keluarga, dengan harapan agar setelah dibuang ke sungai, air sudah memenuhi baku mutu standar SK Gubernur nomor 214 tentang baku mutu air sungai.

Cara yang digunakan KPDL dalam membuat IPAL Komunal pun tidak semata-mata membangun “sepihak”. Masyarakat dilibatkan bersama-sama. Pemerintah yang memberi dana, konsultan, dan memberi contoh bentuk, sedangkan yang melaksanakan adalah masyarakat setempat. Dananya pun dikelola oleh mereka, sehingga kekurangan yang ada ditanggung oleh masyarakat sebagai pengelola. “Bahkan pernah pembuatan IPAL ini, 50 % dananya dari masyarakat daerah itu sendiri. Bagi pemerintah, ini merupakan partisipasi dari masyarakat yang sangat besar”, ucap Pieter bersemangat. Pemerintah tetap memberi konsultan yang membantu, tapi tanggung jawab pembangunan diberikan penuh kepada masyarakat. Pieter juga memberi kebebasan apabila masyarakat merasa tidak membutuhkan atau merasa kurang sreg (yakin-red) dengan konsultan teknis dari pemerintah, masyarakat tidak perlu memakai jasa konsultan tersebut.

Beberapa IPAL komunal yang telah dibantu oleh KPDL antara lain di daerah Serangan, Patangpuluhan, Bumijo, Pringgan (Kotagede), Tegalrejo dan di Rusunawa (Rumah Susun Sewa Sederhana) dekat Hotel Melia.

Mengenai teknis perancangan, Pieter menjelaskan bahwa IPAL komunal yang dibuat ini berbeda dengan septictank pada umumnya. IPAL yang dibuat, sengaja dirancang kedap air, agar air limbah jangan meresap ke dalam tanah. Jadi nantinya, limbah yang dibuang dapat disedot kembali, atau diolah sebagai pupuk.

Soal olah-mengolah limbah, warga Prawirodirjan bahkan telah memulai usaha kreatif ini. “Di RT 7, 8, 9 di Prawirodirjan ini, kami mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk. Anak-anak muda banyak yang terlibat. Bukan itu saja, bahkan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) komunal kami juga akan dibuat proyek “biogas”. Belum pasti kapan, tapi yang jelas, nantinya limbah ini dapat digunakan untuk menghasilkan panas/api, sehingga ada semacam “dapur bersama” di kampung ini,” jelas Suhayatmojo, Sekretaris Kelurahan Prawirodirjan. Melalui contoh usaha kreatif ini, masyarakat dapat mulai untuk minimal peduli dengan lingkungan desanya sendiri. Yang dibuang sayang, usaha ini pantas ditumbuhkembangkan.


TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN


NAMA :RIAN OCTANANTHA
NIM :7206016
SEMESTER :VI

koPREM mengatakan...

TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN

NAMA : SUGENG
NIM : -
SEMESTER : TRANSFER

JENIS DRAINASE, DRAINASE PERKOTAAN DAN PERMASALAHANYA

Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.

JENIS-JENIS DRAINASE

1. Menurut sejarah terbentuknya.
• Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
• Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
2. Menurut letak bangunan.
• Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
• Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
3. Menurut fungsi.
• Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
• Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
4. Menurut kontruksi.
• Saluran terbuka
• Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

SISTEM DAN PERMASALAHAN DRAINASE

1. Sistem drainase.
Sistem drainase dibagi menjadi
• Tersier drainage
• Secondary drainage
• Main drainage
• Sea drainage
2. Permasalahan drainase
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
Disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut

DRAINASE PERKOTAAN

Mencakup pengelolaan pengaliran air limpasan (“run off”) yang berasal dari hujan yang jatuh pada daerah perkotaan kedalam sistem pembuang/drainase alamiah seperti sungai, danau, dan laut.Fasilitas waduk retensi/penampung dan pompa drainase adalah bagian dari sistem drainase

1. Tujuan Drainase Perkotaan
Tujuan dibangunnya prasarana saluran drainase perkotaan adalah untuk :
• Menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
• Melindungi alam dan lingkungan seperti tanah, kualitas udara dan kualitas air.
• Menghidari bahaya, kerusakan materil, kerugian dan beban-beban lain yang disebabkan oleh amukan limpasan banjir.
• Memperbaiki kualitas lingkungan
• Konservasi sumber daya air

2. Fungsi Drainase Perkotaan
Fungsi dari drainase perkotaan antara lain adalah sebagai berikut :
• Mengeringkan daerah becek dan genangan air
• Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan
• Mengendalikan erosi, kerusakan jalan dan bangunan-bangunan.

3. Penanganan Drainase Perkotaan
Penanganan drainase perkotaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik oleh masyarakat maupun pemerintah
• Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah.
• Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap.
• Pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
• Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan.
• Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.

4. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan, drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage).
Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas.
Drainase jalan raya perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan. Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kearah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah, tidak dua arah seperti jalan yang lurus.
Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah.
Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.

5. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.
Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Anonim mengatakan...

DRAINASE PERKOTAAN

 Mencakup pengelolaan pengaliran air limpasan (“run off”) yang berasal dari hujan yang jatuh pada daerah perkotaan kedalam sistem pembuang/drainase alamiah seperti sungai, danau, dan laut
 Fasilitas waduk retensi/penampung dan pompa drainase adalah bagian dari sistem
drainase

Drainase Perkotaan berkembang menjadi :
 Pembuangan air limbah (“waste water”)yang berupa buangan air dari daerah perumahan dan permukiman, dari daerah industri dan kegiatan usaha lainnya, dari
badan jalan dan perkerasan permukaan, serta penyaluran kelebihan air baik air hujan, air kotor maupun air lebih lainnya

Sistem Drainase :
1.Sistem Drainase Mikro
 Adalah jaringan drainase yang melayani suatu kawasan perkotaan yang telah terbangun seperti perumahan, kawasan perdagangan,industri, pasar atau
komplek pertokoan
 Luas tipikal kawasan ini sekitar 10 Ha
2.Sistem Drainase Makro
 Adalah jaringan drainase yang
mengumpulkan air buangan dari jaringan drainase mikro dan menyalurkannya ke sistem pembuang alamiah terdekat seperti
sungai, danau, dan laut

Permasalahan banjir dan drainase perkotaan
 Ditangani secara terpadu dalam satu
kesatuan sistem pencegahan limpasan
aliran sungai dan pembuangan air
genangan akibat hujan yang terjadi
 Mengarahkan dan mempersiapkan
masyarakat agar dapat hidup bersama
banjir dengan memperkuat “sistem
ketahanan terhadap banjir”
Pembinaan Penanganan Banjir dan
Drainase Perkotaan
 Pembinaan penanganan drainase
perkotaan (“urban drainage”)
dilaksanakan oleh Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, sedang perlindungan banjir terhadap kota (“urban flood
protection”) dilaksanakan oleh Ditjen Sumber Daya Air

Berdasarkan KepMen PU No. 239/1997
 Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh alur air, baik alur alam maupun alur buatan yang
hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai yang meliputi sungai tersebut, atau bermuara ke
laut di tepi kota tsb.
 Jaringan alur air baik alamiah maupun buatan yang bukan bagian jaringan drainase perkotaan
adalah bagian dari sistem perlindungan banjir

Kebijakan Umum Pengembangan Prasarana Banjir dan Drainase Perkotaan
 Berdasarkan kebijakan pengembangan prasarana dan sarana perkotaan
 Pembangunan prasarana perkotaan dan kegiatan O&P-nya adalah menjadi
kewenangan dan tanggung jawab
pemerintah daerah (kab/kota) dengan
bantuan dan bimbingan dari pemerintah propinsi dan Pusat
 Perencanaan, program dan identifikasi prioritas investasi
telah dilaksanakan melalui Program Peningkatan Prasarana Kota Terpadu (P3KT)
 Peningkatan kemampuan aparat pemerintah daerah(propinsi, kab/kota)
 Sesuai dengan prinsip desentralisasi prasarana perkotaan
 Perbaikan prosedur, pengembangan institusi, pelatihanpelatihan
 Koordinasi dan konsultasi antara berbagai institusi

Kebijakan dan Strategi Penanganan
Prasarana Drainase Perkotaan
 Pemerintah Pusat menyediakan bantuan untuk pembangunan komponen sistem drainase utama(“major drainage”)seperti saluran drainase
induk, waduk retensi, stasion pompa, pintu pengendali banjir
 Pembangunan sistem drainase kecil (“minor drainage”) utk daerah permukiman baru yang
dibangun oleh Perumnas, real estate menjadi tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan.


Rencana Tata Ruang Perlu Memperhatikan Kondisi Tata Air

Prasarana pengendalian banjir perkotaan dan prasarana drainase perkotaan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat dipisahkan. Baik dalam perencanaan, konstruksi maupun dalam operasi dan pemeliharaannya. Hal ini diperlukan untuk mencapai efektivitas pembuangan limpasan air hujan dan melindungi kawasan perkotaan dan genangan air. Prasarana pengendalian banjir masih perlu ditangani oleh pemerintah pusat, sedangkan prasarana drainase kota telah menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah kota/kabupaten dan masyarakat.
Sebagian besar kota – kota di Indonesia perlu segera membenahi dalam masalah lingkungan. Ini berdasarkan hasil analisis yang sudah dapat dikategorikan terganggu kondisi lingkungan tata airnya yang disebabkan karena semakin luasnya peta genangan yang terjadi dibeberapa daerah. Untuk itu, beberapa yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan ruang terbuka hijau yang dimulai dari lingkungan rumah sendiri, pembuatan sumur resapan yang dapat bermanfaat sebagai pengurangan genangan/banjir, membuat suatu peraturan daerah yang mengatur tentang tata kota serta mengadakan penertiban pada bangunan-bangunan baru yang tidak ber-IMB yang berdiri di atas tanah yang tidak sesuai dengan peruntukkannya, yang berada di atas saluran drainasi, dengan tidak memberikan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dan mengadakan Rencana Tata Ruang Perkotaan dengan cermat dengan memperhatikan kondisi tata air yang ada di perkotaan tersebut.
Selain itu usaha konservasi air dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menetapkan suatu kawasan menjadi daerah resapan air yang pada umumnya berada di sebelah hulu dari daerah yang dimanfaatkan sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Alternatif solusi lainnya adalah dengan memanfaatkan sumur peresapan air hujan untuk gedung dan parit resapan air untuk jalan serta cara vegetatif yaitu jalur hijau.

Siklus alamiah air menuntut kita untuk peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya, air yang terbuang atau dibuang akan berpengaruh terhadap air yang akan kita terima kembali.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan –pembangunan yang ada di perkotaan, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.
Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.
Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.
Drainase dan sanitasi perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sedangkan sistem sanitasi berarti sistem pengendali tingkat higienis, kebersihan dan kesehatan air.
Idealnya, pada rencana induk kota, kedua alur sistem ini harus dipisah. Sistem drainase harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Pun sistem sanitasi, karena sebagian besar berhubungan dengan limbah, maka perlu diusahakan saluran yang benar-benar sehat agar nantinya dapat diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan output-nya memenuhi standar baku air.
Sebagai sistem, penanganan drainase maupun sanitasi tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.


Jenis Drainase dan Permasalahannya
1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :
• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.
b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:
1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage
Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut
c) Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.
2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.
c. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Anonim mengatakan...

MUHAMMAD LULUS HIDAYANTO
NIM : 7207006
TRANSFER

Email : loez_juventinus@yahoo.co.id


DRAINASE PERKOTAAN

 Mencakup pengelolaan pengaliran air limpasan (“run off”) yang berasal dari hujan yang jatuh pada daerah perkotaan kedalam sistem pembuang/drainase alamiah seperti sungai, danau, dan laut
 Fasilitas waduk retensi/penampung dan pompa drainase adalah bagian dari sistem
drainase

Drainase Perkotaan berkembang menjadi :
 Pembuangan air limbah (“waste water”)yang berupa buangan air dari daerah perumahan dan permukiman, dari daerah industri dan kegiatan usaha lainnya, dari
badan jalan dan perkerasan permukaan, serta penyaluran kelebihan air baik air hujan, air kotor maupun air lebih lainnya

Sistem Drainase :
1.Sistem Drainase Mikro
 Adalah jaringan drainase yang melayani suatu kawasan perkotaan yang telah terbangun seperti perumahan, kawasan perdagangan,industri, pasar atau
komplek pertokoan
 Luas tipikal kawasan ini sekitar 10 Ha
2.Sistem Drainase Makro
 Adalah jaringan drainase yang
mengumpulkan air buangan dari jaringan drainase mikro dan menyalurkannya ke sistem pembuang alamiah terdekat seperti
sungai, danau, dan laut

Permasalahan banjir dan drainase perkotaan
 Ditangani secara terpadu dalam satu
kesatuan sistem pencegahan limpasan
aliran sungai dan pembuangan air
genangan akibat hujan yang terjadi
 Mengarahkan dan mempersiapkan
masyarakat agar dapat hidup bersama
banjir dengan memperkuat “sistem
ketahanan terhadap banjir”
Pembinaan Penanganan Banjir dan
Drainase Perkotaan
 Pembinaan penanganan drainase
perkotaan (“urban drainage”)
dilaksanakan oleh Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, sedang perlindungan banjir terhadap kota (“urban flood
protection”) dilaksanakan oleh Ditjen Sumber Daya Air

Berdasarkan KepMen PU No. 239/1997
 Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh alur air, baik alur alam maupun alur buatan yang
hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai yang meliputi sungai tersebut, atau bermuara ke
laut di tepi kota tsb.
 Jaringan alur air baik alamiah maupun buatan yang bukan bagian jaringan drainase perkotaan
adalah bagian dari sistem perlindungan banjir

Kebijakan Umum Pengembangan Prasarana Banjir dan Drainase Perkotaan
 Berdasarkan kebijakan pengembangan prasarana dan sarana perkotaan
 Pembangunan prasarana perkotaan dan kegiatan O&P-nya adalah menjadi
kewenangan dan tanggung jawab
pemerintah daerah (kab/kota) dengan
bantuan dan bimbingan dari pemerintah propinsi dan Pusat
 Perencanaan, program dan identifikasi prioritas investasi
telah dilaksanakan melalui Program Peningkatan Prasarana Kota Terpadu (P3KT)
 Peningkatan kemampuan aparat pemerintah daerah(propinsi, kab/kota)
 Sesuai dengan prinsip desentralisasi prasarana perkotaan
 Perbaikan prosedur, pengembangan institusi, pelatihanpelatihan
 Koordinasi dan konsultasi antara berbagai institusi

Kebijakan dan Strategi Penanganan
Prasarana Drainase Perkotaan
 Pemerintah Pusat menyediakan bantuan untuk pembangunan komponen sistem drainase utama(“major drainage”)seperti saluran drainase
induk, waduk retensi, stasion pompa, pintu pengendali banjir
 Pembangunan sistem drainase kecil (“minor drainage”) utk daerah permukiman baru yang
dibangun oleh Perumnas, real estate menjadi tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan.


Rencana Tata Ruang Perlu Memperhatikan Kondisi Tata Air

Prasarana pengendalian banjir perkotaan dan prasarana drainase perkotaan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat dipisahkan. Baik dalam perencanaan, konstruksi maupun dalam operasi dan pemeliharaannya. Hal ini diperlukan untuk mencapai efektivitas pembuangan limpasan air hujan dan melindungi kawasan perkotaan dan genangan air. Prasarana pengendalian banjir masih perlu ditangani oleh pemerintah pusat, sedangkan prasarana drainase kota telah menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah kota/kabupaten dan masyarakat.
Sebagian besar kota – kota di Indonesia perlu segera membenahi dalam masalah lingkungan. Ini berdasarkan hasil analisis yang sudah dapat dikategorikan terganggu kondisi lingkungan tata airnya yang disebabkan karena semakin luasnya peta genangan yang terjadi dibeberapa daerah. Untuk itu, beberapa yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan ruang terbuka hijau yang dimulai dari lingkungan rumah sendiri, pembuatan sumur resapan yang dapat bermanfaat sebagai pengurangan genangan/banjir, membuat suatu peraturan daerah yang mengatur tentang tata kota serta mengadakan penertiban pada bangunan-bangunan baru yang tidak ber-IMB yang berdiri di atas tanah yang tidak sesuai dengan peruntukkannya, yang berada di atas saluran drainasi, dengan tidak memberikan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dan mengadakan Rencana Tata Ruang Perkotaan dengan cermat dengan memperhatikan kondisi tata air yang ada di perkotaan tersebut.
Selain itu usaha konservasi air dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menetapkan suatu kawasan menjadi daerah resapan air yang pada umumnya berada di sebelah hulu dari daerah yang dimanfaatkan sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Alternatif solusi lainnya adalah dengan memanfaatkan sumur peresapan air hujan untuk gedung dan parit resapan air untuk jalan serta cara vegetatif yaitu jalur hijau.

Siklus alamiah air menuntut kita untuk peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya, air yang terbuang atau dibuang akan berpengaruh terhadap air yang akan kita terima kembali.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan –pembangunan yang ada di perkotaan, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.
Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.
Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.
Drainase dan sanitasi perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sedangkan sistem sanitasi berarti sistem pengendali tingkat higienis, kebersihan dan kesehatan air.
Idealnya, pada rencana induk kota, kedua alur sistem ini harus dipisah. Sistem drainase harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Pun sistem sanitasi, karena sebagian besar berhubungan dengan limbah, maka perlu diusahakan saluran yang benar-benar sehat agar nantinya dapat diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan output-nya memenuhi standar baku air.
Sebagai sistem, penanganan drainase maupun sanitasi tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.


Jenis Drainase dan Permasalahannya
1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :
• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.
b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:
1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage
Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut
c) Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.
2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.
c. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Anonim mengatakan...

NAMA : SLAMET
NIM : 7207012
PRODI : T. SIPIL ( TRANSFER )


Sistem Drainase Perkotaan
“Siklus alamiah air menuntut kita untuk peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya, air yang
ter-buang atau di-buang akan berpengaruh terhadap air yang akan kita terima kembali”
Makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah,
sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata
bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak
adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya.
”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak
kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan
rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.
Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di
bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah.
Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang
tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau
mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan
terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.
Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu”
alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau
juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau
tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai
dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.
Drainase perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi
sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau
pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang.
Idealnya, pada rencana induk kota, Sistem Drainase Perkotaan harus dikembangkan
salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke
dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut.
Sebagai sistem, penanganan drainase tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per
wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu
sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar.
Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar
penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui
konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga
dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana
induk kota.

.JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANYA
Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan,
masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah
masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan
untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air
tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air
sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih
fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial
merusak lingkungan.
Muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/
kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendirisendiri.
Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada
masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh.
Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan
banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada
tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah
dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :
• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna
untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air
tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.
b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:
1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage

Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang
mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan
/penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang,
sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan
.2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan
maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn
infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh
peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota
berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut
c) Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang
dengan cepat agar tidak mengendap.
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah
sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi
lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan,
menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.
2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar
perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage).
Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga
sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka
lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan
bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka
jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun
inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan
sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada
sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median
jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung,
maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu
arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang
rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa
nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.
b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan
shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis
kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % ,
kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang
ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat
, genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran
terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.
c. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada
lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi
genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan
0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara
keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Sistem Drainase :

Sistem Drainase Mikro
Adalah jaringan drainase yang melayani
suatu kawasan perkotaan yang telah
terbangun seperti perumahan, kawasan
perdagangan, industri, pasar atau
komplek pertokoan
Luas tipikal kawasan ini sekitar 10 Ha
Sistem Drainase Makro
Adalah jaringan drainase yang
mengumpulkan air buangan dari jaringan
drainase mikro dan menyalurkannya ke
sistem pembuang alamiah terdekat seperti
sungai, danau, dan laut

Permasalahan banjir dan drainase perkotaan
Ditangani secara terpadu dalam satu
kesatuan sistem pencegahan limpasan
aliran sungai dan pembuangan air
genangan akibat hujan yang terjadi
Mengarahkan dan mempersiapkan
masyarakat agar dapat hidup bersama
banjir dengan memperkuat “sistem
ketahanan terhadap banjir”

Pembinaan Penanganan Banjir dan
Drainase Perkotaan
Pembinaan penanganan drainase
perkotaan (“urban drainage”)
dilaksanakan oleh Ditjen Tata Perkotaan
dan Tata Perdesaan, sedang perlindungan
banjir terhadap kota (“urban flood
protection”) dilaksanakan oleh Ditjen
Sumber Daya Air

Berdasarkan KepMen PU No. 239/1997
Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh
alur air, baik alur alam maupun alur buatan yang
hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai
yang meliputi sungai tersebut, atau bermuara ke
laut di tepi kota tsb.
Jaringan alur air baik alamiah maupun buatan
yang bukan bagian jaringan drainase perkotaan
adalah bagian dari sistem perlindungan banjir

Kebijakan Umum Pengembangan Prasarana
Banjir dan Drainase Perkotaan
Berdasarkan kebijakan pengembangan
prasarana dan sarana perkotaan
Pembangunan prasarana perkotaan dan
kegiatan O&P-nya adalah menjadi
kewenangan dan tanggung jawab
pemerintah daerah (kab/kota) dengan
bantuan dan bimbingan dari pemerintah
propinsi dan Pusat
Perencanaan, program dan identifikasi prioritas investasi
telah dilaksanakan melalui Program Peningkatan
Prasarana Kota Terpadu (P3KT)
Peningkatan kemampuan aparat pemerintah daerah
(propinsi, kab/kota)
Sesuai dengan prinsip desentralisasi prasarana
perkotaan
Perbaikan prosedur, pengembangan institusi, pelatihanpelatihan
Koordinasi dan konsultasi antara berbagai institusi

Kebijakan dan Strategi Penanganan
Prasarana Drainase Perkotaan
Pemerintah Pusat menyediakan bantuan untuk
pembangunan komponen sistem drainase utama
(“major drainage”) seperti saluran drainase
induk, waduk retensi, stasion pompa, pintu
pengendali banjir
Pembangunan sistem drainase kecil (“minor
drainage”) utk daerah permukiman baru yang
dibangun oleh Perumnas, real estate menjadi
tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan.

Anonim mengatakan...

Menciptakan Drainase Ideal untuk Jakarta

BANJIR telah berlalu, tapi musim hujan belum berhenti. Bahkan perubahan pola cuaca dan iklim bulan ini ditengarai berpotensi memunculkan banjir susulan. Mengantisipasi hal tersebut, tulisan tentang sistem drainase berwawasan lingkungan setidaknya bisa menawarkan solusi.
Sistem drainase yang berwawasan lingkungan merupakan upaya konservasi sumber daya air baku untuk air bersih yang mampu mengatur jalannya aliran air menuju daerah hilir dengan lancar tanpa hambatan serta sanggup menjadi pengendali banjir.
Ada empat sistem drainase yang kita kenal, yakni drainase hujan daerah perkotaan (urban storm drainage), drainase air limbah (waste water drainage), drainase lahan (land drainage) dan drainase jalan raya (highway drainage). Drainase perkotaan merupakan sistem drainase yang dapat mencakup keempat jenis drainase tersebut dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu ciri-ciri kepadatan penduduk, tata guna lahan serta luasnya lapisan pengerasan permukaan.
Sebelum membicarakan sistem drainase yang cocok dan sesuai dengan kondisi Jakarta, ada baiknya kita harus kembali pada rumusan debit air (Q) di mana Q dipengaruhi oleh land use, catchment area, dan intensitas hujan (Q=C.A.I). Selain juga tidak melupakan konsep dasar suatu drainase perkotaan yang mampu melayani pembuangan kelebihan air pada suatu kota dengan cara mengalirkannya melalui permukaan tanah (surface drainage) atau lewat di bawah permukaan tanah (sub surface drainage).

Masalah Hulu
Persoalan aliran air yang ada di Jakarta tidak terlepas dari asal atau hulu aliran tersebut, yaitu ”BOPUNJUR” (Bogor, Puncak, Cianjur). Era kolonial dulu, saat pembukaan lahan perkebunan teh di Puncak, memerlukan studi dan perencanaan yang panjang. Kolonial Belanda tahu risiko yang akan dihadapi, kota Batavia atau Jakarta pasti banjir.
Karena itu, dibangunlah benteng banjir untuk mencegah air hulu mengalir ke pusat dengan mengalihkannya ke wilayah barat dan timur Jakarta. Sayangnya, selesai dibangun Banjir Kanal Barat, tidak segera diikuti dengan pembangunan Banjir Kanal Timur.
Kini kawasan ”BOPUNJUR” berkembang pesat. Banyaknya vila dan pemukiman membuat areal di hulu menjadi kedap air (impervious) sehingga mengalami perubahan fungsi. Hal ini bertentangan dengan Keppres No. 48/1983 tentang Penataan Ruang dan Penertiban serta Pengendalian Pembangunan di Kawasan Puncak, Keppres No. 79/1985 tentang RUTR Kawasan Puncak, Keppres No. 114/1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor Puncak Cianjur yang ditetapkan sebagai daerah konservasi air dan tanah untuk menjamin tersedianya air tanah, air permukaan, dan penanggulangan banjir bagi kawasan hilir.
Jakarta akhirnya harus menerima risiko menjadi ”danau besar”. Idealnya, air hujan yang meresap di hulu 0,7 persen dari setiap meter kubiknya. Kenyataanya, 0,7 persen meluncur deras ke Jakarta.

Peninggalan Belanda
Drainase yang ada di Jakarta hampir sebagian besar merupakan peninggalan Belanda. Saat ini dalam kondisi sangat memprihatinkan akibat perubahan jalan (outer ring road), elevasi yang tidak seragam, sumbatan sampah, dan perubahan tata ruang. RUTR Jakata tahun 1985-2005 yang ada ternyata berbeda dengan kondisi riil di lapangan.
Lemahnya law enforcement sering disebut menjadi penyebab pelanggaran di RUTR.
Melihat hal itu penanganan drainase di Jakarta perlu dilaksanakan secara komprehensif dengan menata ulang Daerah Pengaliran Sungai (DPS) mengingat aliran drainase kota harus mengikuti aliran sungai yang ada. Berdasarkan Keppres No. 123 tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air, koordinasi pengaturan air permukaan menjadi tanggung jawab Menteri pemukiman dan prasarana wilayah, dengan konsep yang ditawarkan One River, One Integratred Plan, One Coordination System Management.
Langkah berikutnya adalah optimalisasi sarana bangunan drainase yang telah ada melalui kegiatan pemeliharaan rutin, pemeliharaan periodik, rehabilitasi, dan normalisasi dengan melibatkan peran aktif masyarakat serta para stakeholder lingkungan (Pemerintah Pusat, Pemda, Akademisi, Pengusaha, Asosiasi Profesi, LSM, dan Lembaga Penelitian serta Laboratorium) melalui Urban Community Development Program.

Saling Terkait
Idealnya, sistem drainase di Jakarta harus saling terkait antara satu daerah dengan daerah lain (integrated connection) untuk kemudian ditampung di waduk. Mengingat 40 persen wilayah di DKI Jaya berada di bawah permukaan laut.
Setelah ditampung di waduk, saat mencapai ketinggian tertentu dipompa ke laut (sistem polder). Sedangkan untuk daerah yang normal dengan sistem gravitasi terhubung antara saluran tersier ke sekunder seterusnya ke primer kemudian ke badan air (sungai).
Berdasarkan data dari Dinar PU DKI Jakarta, saluran makro yang ada memiliki luas 5.325, 020 m2 untuk13 sungai, 1.823.000 m2 untuk banjir kanal dan 1.566.440 m2 untuk sungai sedang. Sedangkan Saluran Sub Makro di wilayah Jakarta Pusat seluas 114.544,15 m2, Jakarta Utara 986.685,90 m2, Jakarta Barat 193.747,85 m2, Jakarta Selatan 296.348,20 m2 dan Jakarta Timur 443.127,40 m2. dengan jumlah waduk 29 buah seluas 8,797,00 ha, Situ sebanyak 17 buah seluas 111,42 ha. Sedangkan, untuk micro drain seluas3.827.715 m2. Suatu angka yang sangat tidak memadai lagi bagi debt air yang datang.
Penanganan drainase perkotaan DKI Jaya harus pula terintegrasi dengan sistem pengendalian banjir dan memprioritaskan pada kawasan strategis dan daerah yang mengalami banjir atau genangan rutin melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang. Serta menjadi dasar dalam pembuatan master plan drainage yang ideal di DKI Jakarta. Idealnya, DKI Jaya mempunyai sistem drainase dengan memperhatikan kondisi riil Q = C.A.I.
Selain itu, Catchment Area di hulu dengan membuat waduk besar di selatan Jakarta (hulu) untuk mengurangi debet air yang mengalir dari hulu dan juga dapat berfungsi sebagai water recharge untuk memenuhi kebutuhan air bersih/PDAM Jakarta pada musim kemarau.
Jakarta juga harus memperlebar badan penerima air atau penampang air (sungai). Kondisi micro drain yang saling terhubung dan tanpa sumbatan sampah serta memperbanyak waduk di utara Jakarta untuk melayani 40 persen daerah yang rendah (sistem polder). Dengan demikian, perlu dikembalikan daerah tangkapan air di hulu, perlu pelebaran sungai-sungai yang telah menyempit di Jakarta dan perlu sistem polder yang memadai. (Tito KA Purwanto)



Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga | Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda
Copyright © Sinar Harapan 2001

Anonim mengatakan...

TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN

NAMA : ADE LUSIANI
NIM : 7207008
TRANSFER

E-mail : ade_lusya@yahoo.com

Menciptakan Drainase Ideal untuk Jakarta

BANJIR telah berlalu, tapi musim hujan belum berhenti. Bahkan perubahan pola cuaca dan iklim bulan ini ditengarai berpotensi memunculkan banjir susulan. Mengantisipasi hal tersebut, tulisan tentang sistem drainase berwawasan lingkungan setidaknya bisa menawarkan solusi.
Sistem drainase yang berwawasan lingkungan merupakan upaya konservasi sumber daya air baku untuk air bersih yang mampu mengatur jalannya aliran air menuju daerah hilir dengan lancar tanpa hambatan serta sanggup menjadi pengendali banjir.
Ada empat sistem drainase yang kita kenal, yakni drainase hujan daerah perkotaan (urban storm drainage), drainase air limbah (waste water drainage), drainase lahan (land drainage) dan drainase jalan raya (highway drainage). Drainase perkotaan merupakan sistem drainase yang dapat mencakup keempat jenis drainase tersebut dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu ciri-ciri kepadatan penduduk, tata guna lahan serta luasnya lapisan pengerasan permukaan.
Sebelum membicarakan sistem drainase yang cocok dan sesuai dengan kondisi Jakarta, ada baiknya kita harus kembali pada rumusan debit air (Q) di mana Q dipengaruhi oleh land use, catchment area, dan intensitas hujan (Q=C.A.I). Selain juga tidak melupakan konsep dasar suatu drainase perkotaan yang mampu melayani pembuangan kelebihan air pada suatu kota dengan cara mengalirkannya melalui permukaan tanah (surface drainage) atau lewat di bawah permukaan tanah (sub surface drainage).

Masalah Hulu
Persoalan aliran air yang ada di Jakarta tidak terlepas dari asal atau hulu aliran tersebut, yaitu ”BOPUNJUR” (Bogor, Puncak, Cianjur). Era kolonial dulu, saat pembukaan lahan perkebunan teh di Puncak, memerlukan studi dan perencanaan yang panjang. Kolonial Belanda tahu risiko yang akan dihadapi, kota Batavia atau Jakarta pasti banjir.
Karena itu, dibangunlah benteng banjir untuk mencegah air hulu mengalir ke pusat dengan mengalihkannya ke wilayah barat dan timur Jakarta. Sayangnya, selesai dibangun Banjir Kanal Barat, tidak segera diikuti dengan pembangunan Banjir Kanal Timur.
Kini kawasan ”BOPUNJUR” berkembang pesat. Banyaknya vila dan pemukiman membuat areal di hulu menjadi kedap air (impervious) sehingga mengalami perubahan fungsi. Hal ini bertentangan dengan Keppres No. 48/1983 tentang Penataan Ruang dan Penertiban serta Pengendalian Pembangunan di Kawasan Puncak, Keppres No. 79/1985 tentang RUTR Kawasan Puncak, Keppres No. 114/1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor Puncak Cianjur yang ditetapkan sebagai daerah konservasi air dan tanah untuk menjamin tersedianya air tanah, air permukaan, dan penanggulangan banjir bagi kawasan hilir.
Jakarta akhirnya harus menerima risiko menjadi ”danau besar”. Idealnya, air hujan yang meresap di hulu 0,7 persen dari setiap meter kubiknya. Kenyataanya, 0,7 persen meluncur deras ke Jakarta.

Peninggalan Belanda
Drainase yang ada di Jakarta hampir sebagian besar merupakan peninggalan Belanda. Saat ini dalam kondisi sangat memprihatinkan akibat perubahan jalan (outer ring road), elevasi yang tidak seragam, sumbatan sampah, dan perubahan tata ruang. RUTR Jakata tahun 1985-2005 yang ada ternyata berbeda dengan kondisi riil di lapangan.
Lemahnya law enforcement sering disebut menjadi penyebab pelanggaran di RUTR.
Melihat hal itu penanganan drainase di Jakarta perlu dilaksanakan secara komprehensif dengan menata ulang Daerah Pengaliran Sungai (DPS) mengingat aliran drainase kota harus mengikuti aliran sungai yang ada. Berdasarkan Keppres No. 123 tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air, koordinasi pengaturan air permukaan menjadi tanggung jawab Menteri pemukiman dan prasarana wilayah, dengan konsep yang ditawarkan One River, One Integratred Plan, One Coordination System Management.
Langkah berikutnya adalah optimalisasi sarana bangunan drainase yang telah ada melalui kegiatan pemeliharaan rutin, pemeliharaan periodik, rehabilitasi, dan normalisasi dengan melibatkan peran aktif masyarakat serta para stakeholder lingkungan (Pemerintah Pusat, Pemda, Akademisi, Pengusaha, Asosiasi Profesi, LSM, dan Lembaga Penelitian serta Laboratorium) melalui Urban Community Development Program.

Saling Terkait
Idealnya, sistem drainase di Jakarta harus saling terkait antara satu daerah dengan daerah lain (integrated connection) untuk kemudian ditampung di waduk. Mengingat 40 persen wilayah di DKI Jaya berada di bawah permukaan laut.
Setelah ditampung di waduk, saat mencapai ketinggian tertentu dipompa ke laut (sistem polder). Sedangkan untuk daerah yang normal dengan sistem gravitasi terhubung antara saluran tersier ke sekunder seterusnya ke primer kemudian ke badan air (sungai).
Berdasarkan data dari Dinar PU DKI Jakarta, saluran makro yang ada memiliki luas 5.325, 020 m2 untuk13 sungai, 1.823.000 m2 untuk banjir kanal dan 1.566.440 m2 untuk sungai sedang. Sedangkan Saluran Sub Makro di wilayah Jakarta Pusat seluas 114.544,15 m2, Jakarta Utara 986.685,90 m2, Jakarta Barat 193.747,85 m2, Jakarta Selatan 296.348,20 m2 dan Jakarta Timur 443.127,40 m2. dengan jumlah waduk 29 buah seluas 8,797,00 ha, Situ sebanyak 17 buah seluas 111,42 ha. Sedangkan, untuk micro drain seluas3.827.715 m2. Suatu angka yang sangat tidak memadai lagi bagi debt air yang datang.
Penanganan drainase perkotaan DKI Jaya harus pula terintegrasi dengan sistem pengendalian banjir dan memprioritaskan pada kawasan strategis dan daerah yang mengalami banjir atau genangan rutin melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang. Serta menjadi dasar dalam pembuatan master plan drainage yang ideal di DKI Jakarta. Idealnya, DKI Jaya mempunyai sistem drainase dengan memperhatikan kondisi riil Q = C.A.I.
Selain itu, Catchment Area di hulu dengan membuat waduk besar di selatan Jakarta (hulu) untuk mengurangi debet air yang mengalir dari hulu dan juga dapat berfungsi sebagai water recharge untuk memenuhi kebutuhan air bersih/PDAM Jakarta pada musim kemarau.
Jakarta juga harus memperlebar badan penerima air atau penampang air (sungai). Kondisi micro drain yang saling terhubung dan tanpa sumbatan sampah serta memperbanyak waduk di utara Jakarta untuk melayani 40 persen daerah yang rendah (sistem polder). Dengan demikian, perlu dikembalikan daerah tangkapan air di hulu, perlu pelebaran sungai-sungai yang telah menyempit di Jakarta dan perlu sistem polder yang memadai. (Tito KA Purwanto)



Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga | Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda
Copyright © Sinar Harapan 2001

Anonim mengatakan...

TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN

NAMA : SUNARDI
NIM : 7207007
T. SIPIL (TRANSFER)

Permasalahan Drainase Kota di Kawasan Pesisir Pantai

DRAINASE adalah istilah untuk tindakan teknis penanganan air kelebihan yang disebabkan oleh hujan, rembesan, kelebihan air irigasi, maupun air buangan rumah tangga, dengan cara mengalirkan, menguras, membuang, meresapkan, serta usaha-usaha lainnya, dengan tujuan akhir untuk mengembalikan ataupun meningkatkan fungsi kawasan. Secara umum sistem drainase merupakan suatu rangkaian bangunan air yang berfungsi mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan.
Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
Secara fungsional, sulit dipisahkan secara jelas antara sistem drainase dan sistem pengendalian banjir. Genangan yang terjadi sehubungan dengan aliran di saluran drainase akibat hujan lokal terhambat masuk ke saluran induk dan/atau ke sungai, sering juga disebut banjir. Membedakan genangan akibat luapan sungai dengan genangan akibat hujan lokal yang kurang lancar mengalir ke sungai, seringkali mengalami kesulitan.
Permasalahan Drainase di Wilayah Perkotaan
Perkotaan merupakan pusat kegiatan manusia, pusat produsen, pusat perdagangan, sekaligus pusat konsumen. Di wilayah perkotaan tinggal banyak manusia sehingga terdapat banyak fasilitas umum, transportasi, komunikasi dan sebagainya.
Saluran drainase di wilayah perkotaan menerima tidak hanya air hujan, tetapi juga air buangan (limbah) rumah tangga, dan mungkin juga limbah pabrik.
Hujan yang jatuh di wilayah perkotaan kemungkinan besar terkontaminasi ketika air itu memasuki dan melintasi atau berada di lingkungan perkotaan. Sumber kontaminasi berasal dari udara (asap, debu, uap, gas), bangunan dan/atau permukaan tanah, dan limbah domestik yang mengalir bersama air hujan. Setelah melewati lingkungan perkotaan, air hujan dengan atau tanpa limbah domestik, membawa polutan ke badan air.
Sumber penyebab utama permasalahan drainase adalah peningkatan/pertumbuhan jumlah penduduk. Urbanisasi yang terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia akhir-akhir ini menambah beban daerah perkotaan menjadi lebih berat.
Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti dengan peningkatan infrastruktur perkotaan seperti perumahan, sarana transportasi, air bersih, prasarana pendidikan, dan lain-lain. Di samping itu peningkatan penduduk selalu juga diikuti dengan peningkatan limbah, baik limbah cair maupun padat (sampah).
Kebutuhan akan lahan untuk permukiman maupun kegiatan perekonomian akan semakin meningkat sehingga terjadi perubahan tataguna lahan yang mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan debit puncak banjir. Besar kecil aliran permukaan sangat ditentukan oleh pola penggunaan lahan, yang diekspresikan dalam koefisien pengaliran yang bervariasi antara 0,10 (hutan datar) sampai 0,95 (perkerasan jalan). Hal ini menunjukkan bahwa pengalihan fungsi lahan dari hutan menjadi perkerasan jalan bisa meningkatkan debit puncak banjir sampai 9,5 kali, dan hal ini mengakibatkan prasarana drainase yang ada menjadi tidak mampu menampung debit yang meningkat tersebut.
Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan/penyempitan saluran dan sungai, sehingga kapasitas/kemampuan mengalirkan air dari sungai dan saluran drainase menjadi berkurang.
Perubahan fungsi lahan dari hutan (kawasan terbuka) menjadi daerah terbangun (kawasan perdagangan, permukiman, jalan dan lain-lain) juga mengakibatkan peningkatan erosi. Material yang tererosi, terbawa serta ke dalam saluran dan sungai sehingga turut mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan.
Oleh sebab itu, setiap perkembangan kota harus diikuti dengan evaluasi dan/atau perbaikan sistem secara menyeluruh, tidak hanya pada lokasi pengembangan, tetapi juga daerah sekitar yang terpengaruh.
Sebagai contoh, pengembangan suatu kawasan permukiman di daerah hulu suatu sistem drainase, maka perencanaan drainasenya tidak hanya dilakukan pada kawasan permukiman tersebut, tetapi sistem drainase di hilir juga harus dievaluasi dan/atau diredesain jika diperlukan. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka instansi atau pengembang yang terlibat harus mampu menjamin (secara teknis) bahwa air dari kawasan yang dikembangkan tidak mengalami perubahan dari sebelum dan sesudah pengembangan. Cara lain yang dapat ditempuh adalah pengembang harus menyediakan di kawasan pengembangan tersebut, resapan-resapan buatan seperti sumur resapan, kolam resapan, kolam tandon sementara dan sebagainya.
Permasalahan Drainase Kota di Kawasan Pesisir Pantai
Kota-kota besar di Indonesia sebagian besar terdapat di wilayah pesisir pantai. Permasalahan drainase di kota-kota pesisir pantai biasanya lebih rumit dibandingkan dengan permasalahan drainase perkotaan secara umum.
Permasalahan drainase khususnya kota pantai, bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan antara lain peningkatan debit, penyempitan dan pendangkalan saluran, reklamasi, amblasan tanah, limbah cair dan padat (sampah), dan pasang surut air laut.
Amblasan tanah (land subsidence) yang terjadi di banyak kota pantai mengakibatkan genangan banjir makin parah. Amblasan tanah ini disebabkan terutama oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, yang mengakibatkan beberapa bagian kota berada sama tinggi dan bahkan di bawah muka air laut pasang. Akibatnya sistem drainase gravitasi akan terganggu, bahkan tidak bisa bekerja tanpa bantuan pompa. Bahkan di beberapa tempat dapat menyebabkan genangan permanen dari air pasang yang biasa dikenal sebagai banjir rob.
Penerapan konsep drainase pengatusan di daerah pedalaman sering menimbulkan/menambah permasalahan di wilayah pesisir, karena terjadi akumulasi debit di saluran primer.
Dapat disimpulkan bahwa selain penyebab secara umum seperti tingginya curah hujan dan perubahan tataguna lahan, penyebab lainnya yang menimbulkan permasalahan drainase di kota-kota yang terletak di kawasan pesisir pantai adalah :
a. Kemiringan saluran drainase yang sangat kecil di kawasan yang hampir datar menyebabkan kecepatan aliran cukup kecil dan sering terjadi pengendapan lumpur yang mengurangi kapasitasnya.
b. Gelombang pasang-surut air laut (rob) yang membentuk semacam tembok penghalang di hilir saluran dan muara sungai sehingga terjadi aliran balik (back water curve).
c. Banyaknya endapan di muara sungai (sebagai saluran drainase primer) menyebabkan kapasitas alirannya berkurang. Kondisi ini diperparah lagi dengan banyaknya sampah dari warga kota yang dibuang ke saluran dan sungai.
d. Reklamasi dan pembangunan di daerah pantai sering tidak memperhatikan kondisi topografi sehingga mengakibatkan hambatan aliran ke laut, sehingga menimbulkan kawasan-kawasan genangan yang baru.
e. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi di kawasan perkotaan, turut pula bertumbuh kawasan permukiman yang tidak beraturan. Rumah dibangun di atas saluran, dan pembuangan limbah langsung ke saluran yang ada di bawahnya. Hal ini menghambat upaya pemeliharaan saluran dan mengurangi kapasitas alirannya.
Permasalahan di atas masih diperberat lagi dengan kurangnya perhatian dari berbagai pihak dalam mengatasi masalah secara bersama dan proporsional, adanya perbedaan kepentingan drainase dengan prasarana lain seperti jalan, jaringan bangunan bawah tanah, jaringan perpipaan air bersih, telkom, listrik dan sebagainya, serta kurangnya kepastian hukum dalam mengamankan fungsi prasarana drainase, maupun adanya sementara pihak yang tidak mengetahui ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Saat ini sistem drainase sudah menjadi salah satu infrastruktur perkotaan yang sangat penting. Kualitas manajemen suatu kota tercermin dari kualitas sistem drainase di kota tersebut. Sistem drainase yang kurang baik menyebabkan terjadinya genangan air di berbagai tempat sehingga lingkungan menjadi kotor dan jorok, menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit, yang pada akhirnya bukan hanya menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi dapat juga menggangu kegiatan transportasi, perekonomian dan lain-lain.
Upaya Mengatasi Permasalahan Drainase Kota di Kawasan Pesisir Pantai
Sampai saat ini drainase sering diabaikan dan direncanakan seolah-olah bukan pekerjaan penting. Seringkali pekerjaan drainase hanya dianggap sekedar pembuatan got, padahal pekerjaan drainase terutama di perkotaan bisa merupakan pekerjaan yang rumit dan kompleks, sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar.
Jika perencana jembatan harus dapat menjawab pertanyaan tentang berapa maksimum beban kendaraan yang bisa melintasi jembatan yang direncanakannya, maka perencana drainase harus dapat menjawab pertanyaan tentang besar intensitas curah hujan ataupun periode ulang yang diterapkan dalam perencanaan, seberapa besar peluang kapasitas saluran tidak mampu menampung debit aliran akibat hujan, daerah mana saja yang merupakan daerah layanan saluran (langsung maupun tidak langsung), apakah dengan saluran yang baru ini tidak akan terjadi pencemaran air tanah, apakah tidak akan menimbulkan masalah di kawasan bagian hilir, apakah koefisien limpasan sudah disesuaikan dengan peruntukkan lahan di kemudian hari (sesuai rencana tata ruang), apakah sudah memperhitungkan adanya pengaruh air balik (back water curve), dan berbagai pertanyaan lainnya.
Bagaimana menata/mengelola sistem drainase kota ???
Melalui suatu rangkaian kegiatan yang disingkat dengan SIDLACOM (Survey, Investigasi, Desain, Pembebasan Lahan, Pembangunan, Operasi dan Pemeliharaan).
Pada tahapan SID, perencana menyusun terlebih dulu suatu Master Plan yang kemudian diikuti dengan Analisa Kelayakan dan Detailed Engineering Design.
Master plan drainase merupakan suatu rencana induk sistem drainase yang memberikan arahan yang jelas tentang penanganan masalah drainase secara terpadu, desain tipikal dari prasarana drainase, prioritas penanganan/pembangunan, perkiraan biaya, pedoman operasional dan pemeliharaan dan sebagainya.
(Seingat penulis, sejak beberapa tahun yang lalu Kota Manado sudah punya master plan drainase kota yang dibuat oleh Bappeda Kota Manado, master plan drainase kota yang dibuat oleh Sub-Dinas Cipta Karya Dinas PU Provinsi, dan master plan pengendalian daya rusak air Kota Manado yang dibuat oleh Dinas Sumber Daya Air Provinsi).
Master plan adalah suatu karya di atas kertas berupa laporan dan gambar, yang tentunya akan mubazir apabila tidak dimanfaatkan dan dilanjutkan dengan suatu desain rinci (DED), dan implementasi di lapangan.
Operasional prasarana drainase merupakan usaha untuk memanfaatkan prasarana drainase secara optimal (melalui pengoperasian pintu air, penyuluhan dan lain-lain), sedangkan pemeliharaan prasarana drainase merupakan usaha untuk menjaga agar prasarana drainase berfungsi dengan baik selama mungkin (melalui pengamanan, perawatan, perbaikan)
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan drainase kota di kawasan pesisir pantai:
a. Reklamasi pantai harus dapat menjamin kemiringan topografi kawasan agar tidak menimbulkan daerah-daerah rawan genangan yang baru. Alternatif lainnya adalah dengan menyediakan akses drainase ke laut berupa saluran-saluran terbuka yang kapasitasnya sudah melalui perencanaan yang mantap.
b. Bagian hilir saluran drainase harus direncanakan mampu mengatasi masalah back water curve. Jika diperlukan, harus dibuat konstruksi penahan pasang surut air laut seperti pintu air yang dibantu oleh kolam tandon dan pompa air, atau membangun tanggul/tembok di sepanjang kiri kanan muara sungai/saluran.
c. Program normalisasi sungai yang memperlebar dan memperdalam alur sungai merupakan cara yang paling tepat untuk mengatasi penyempitan dan pendangkalan/penyumbatan di hilir/muara sungai.
d. Meningkatkan upaya non-struktur seperti penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga prasarana drainase, serta penegakan hukum terhadap kegiatan yang merusak prasarana drainase dan menghambat upaya pemeliharaan drainase.
e. Barangkali sudah waktunya dipikirkan pembuatan peraturan penarikan retribusi sistem drainase mengingat banyaknya kebutuhan pendanaan untuk suatu kota sehingga subsidi untuk drainase mulai dikurangi sejak sekarang. Selain itu, sistem drainase kota melayani pembuangan limbah cair di musim kemarau sehingga wajar jika pemerintah menarik retribusi atas pelayanan yang diberikan. Keberadaan sistem drainase sanggup menaikkan nilai tanah dan bangunan, sehingga sewajarnya jika pemerintah mendapatkan bagian guna membangun dan memelihara sistem drainase.
Kasus Khusus: Drainase di Kawasan Boulevard di Kota Manado
Jalan Piere Tendean (lebih dikenal dengan Boulevard) dan kawasan perdagangan di sebelah barat jalan tersebut, dulunya adalah bagian dari pantai Teluk Manado, yang direklamasi secara bertahap. Pantai ini dulunya menjadi lokasi pembuangan akhir dari saluran-saluran drainase kota.
Pembangunan jalan Piere Tendean diikuti dengan pembuatan saluran drainase di sisi timur jalan dan beberapa gorong-gorong yang memotong jalan. Saluran di sisi timur jalan hanya berfungsi menampung air dari saluran-saluran drainase kota untuk kemudian didistribusikan ke gorong-gorong, dan sebagiannya lagi dialirkan ke sungai Sario. Keberadaan saluran ini tidak efektif mengingat kemiringan dasar saluran yang sejajar pantai adalah relatif datar, sehingga aliran akan terhambat. Seyogyanya saluran-saluran drainase kota harus dilanjutkan dengan gorong-gorong langsung ke arah laut.
Reklamasi pantai menjadi kawasan perdagangan di sebelah barat jalan Piere Tendean menyebabkan diikuti dengan penutupan sebagian gorong-gorong di jalan tersebut. Elevasi lahan reklamasi dibuat lebih tinggi dari Jalan Piere Tendean dan kemiringannya ke arah jalan tersebut. Ini sama dengan menambah luas catchment area dari saluran di jalan Piere Tendean. Saluran pembuang yang melewati kawasan perdagangan ini saling berjarak relatif cukup jauh dan dibuat tertutup.
Akibat dari semua keadaan ini, pada saat hujan cukup deras, saluran di sisi Jalan Piere Tendean, gorong-gorong dan saluran tertutup di kawasan reklamasi tidak mampu menampung dan menyalurkan air hujan dan terjadilah genangan air di sebagian ruas jalan Piere Tendean. Kawasan permukiman yang dulunya bebas dari genangan (Kampung Pondol, Kampung Kakas, Kampung Tomohon, dan sekitarnya) sekarang telah berubah menjadi lokasi rawan genangan.
Beberapa hal yang diusulkan untuk mengatasi masalah drainase di kawasan Jalan Piere Tendean dan sekitarnya adalah:
a. Jarak antara gorong-gorong di Jalan Piere Tendean diperkecil dengan menambah jumlah gorong-gorong. Paling baik apabila gorong-gorong dibuat sebagai kepanjangan dari saluran-saluran drainase kota.
b. Di kawasan reklamasi perlu dibangun akses drainase berupa saluran-saluran terbuka ke laut, yang jika ditata dan dipelihara dengan baik, bisa menjadi lokasi rekreasi.
c. Perencanaan teknis dari fasilitas drainase hendaknya memperhitungkan catchment area serta kemungkinan perubahan penggunaan lahan baik di sekitar lokasi dan di daerah hulu berdasarkan rencana tata ruang kota.#

* Dosen Keairan di Fakultas Teknik Unsrat; PU SDA: Profesional Utama Sumber Daya Air, Himpunan Ahli Teknik Hidranlik Indonesia (HATHI)

Anonim mengatakan...

TUGAS MATA KULIAH
DRAINASE PERKOTAAN

NAMA : ANUF RIZAL
NIM : 7206003
SEMESTER : VI


SISTEM DRAINASE PERKOTAAN

“Siklus alamiah air menuntut kita untuk peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya, air yang ter-buang atau di-buang akan berpengaruh terhadap air yang akan kita terima kembali”

Makin hari, makin banyak masalah lingkungan yang terus memburu kita. Mulai dari sampah, sungai tercemar, banjir bandang dan banyak lagi. Bolehlah kita sesekali membuka mata bahwa permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota tempat kita berpijak adalah ruang kehidupan kita bersama. Ruang yang harus kita rawat siklus kealamiannya. ”Air” menjadi salah satu kata kuncinya. Permasalahan ”air” adalah permasalahan yang tak kunjung usai. Karena bagaimanapun juga permasalahan lingkungan bukan permasalahan rekayasa teknis semata tapi juga permasalahan sosial yang buntutnya adalah soal budaya.
Membahas ”air” berarti tak dapat lepas dari keberadaanya, air di permukaan tanah atau air di bawah tanah. Berdasar siklus air, air hujan turun ke bumi kemudian meresap di dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ini akan mengalir menuju hilir. Sedangkan air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah, melimpas, menjadi genangan di permukaan atau mengalir ke sungai. Air sungai mengalir menuju hilir atau bermuara di lautan. Siklus ini akan terus berulang hingga air dari penguapan laut turun kembali sebagai hujan.
Siklus air alami ini tidak akan menyebabkan permasalahan ketika air tidak ”diganggu” alirannya. ”Gangguan” ini dapat berupa pembatasan gerak air, pencemaran lingkungan atau juga pengurangan jumlah air yang meresap ke tanah. Proses alami air ini tentu saja ¾ mau tidak mau ¾ harus ”diganggu”. Perkembangan kota, pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama penentu proses siklus air.
Drainase perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk dibicarakan karena memegang fungsi sentral dalam hal pengendalian air. Sistem Drainase berarti sistem pengatusan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang.
Idealnya, pada rencana induk kota, Sistem Drainase Perkotaan harus dikembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan, masuk ke selokan/parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke sungai dan bermuara di laut.
Sebagai sistem, penanganan drainase tidak dapat dilakukan secara individual, wilayah per wilayah. Rencana induk kota harus mampu mengintegrasikan jaringan air mulai dari hulu sampai dengan hilir. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah punya pengaruh yang besar. Kebijakan ini memayungi prosedur-prosedur standar pengendalian air, semisal, standar penyambungan saluran air hujan, air limbah, atau juga septictank rumah tangga. Melalui konsultan teknisnya, pemerintah harus menjadi fasilitator bagi masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, partisipasi dan sikap proaktif akan menentukan keberhasilan rencana induk kota.
POLA JARINGAN DRAINASE:
1. siku
digunakan pada daerah/wilayah yang memiliki topografi sedikit lebih tinggi dari sungai. Sungai sebagai pembuangan akhir berada ditengah kota.
2. pararel
saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang.
3. Grid iron
Biasanya pada kota yang memiliki sungai di wilayah yang jauh dari pemukiman/industri/pusat kota sehingga air buangan dikumpulkan terlebih dahulu pada saluran pengumpul sebelum dibuang ke sungai
4. Radial
Biasanya digunakan pada daerah berbukit sehingga pola salurannya memencar ke segala arah

JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANYA
Banyak hal yang menjadi permasalahan dan kendala dalam sistem drainase perkotaan, masalah teknis konsep drainase perkotaan kita. Air hujan yang turun ke permukaan tanah masih dibuang ”secepat-cepatnya” ke sungai. Air hujan yang turun tidak diberi kesempatan untuk meresap sebagai cadangan air tanah. Akibatnya tanah tak punya cadangan air, muka air tanah turun, kekeringan melanda. Sementara itu, sungai tidak lagi mengalirkan air bersih. Air sungai bercampur juga dengan air limbah, baik itu skala kecil maupun besar. Tumpang tindih fungsi atas keberadaan sungai ini jelas membawa banyak permasalahan yang potensial merusak lingkungan.
Muncul dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan adalah integrasi jaringan antar wilayah/kabupaten. Sebagai sebuah jaringan dan sistem, tidak mungkin bila aliran air dikelola sendiri-sendiri. Pendimensian saluran, penggunaan sungai secara terpadu, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh.
Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.



a) Jenis – jenis drainase :
• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.
b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:
1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage
Permasalahan drainase:
Permasalahan drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan
.2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut
c) Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap.
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.
2 a. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu jalan atau trotoar. Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal. Untuk jalan raya yang lurus, kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan, sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah. Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran.


b. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau surface drainage.
Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5 %.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10 % ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum 14 cm, dan harus segera dialirkan.
Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air (Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.

c. Drainase Lapangan Olahraga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan baik. Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada collector drain.

Anonim mengatakan...

TUGAS MK DRAINASE PERKOTAAN
NAMA : MUSTAKIM
NIM : 7206010
SEMESTER : VI

PENGENALAN TENTANG
DRAINASE PERKOTAAN

Drainase perkotaan melayani kelebihan air pada suatu wilayah (kota) dengan cara mengalirkan melalui sebuah sitem drainase (surface drainage atau sub surface drainage) untuk dibuang ke saluran drainase alami (sungai, danau, laut). Kelebihan air dapat berupa air hujan, air limbah (domestic maupun industri)
Limbah domestic  limbah rumah tangga
Limbah industri  limbah pabrik
Secara umum sumber-sumber air buangan di wilayah kota antara lain:
1.dari rumah tangga  jumlah penduduk kota > penduduk desa
2.dari perdagangan  kota sebagai pusat perdagangan
3.industri  kota sebagai pusat industri
4.pendidikan  jumlah sekolah di kota > dari di desa
5.kesehatan  banyak fasilitas kesehatan
6.tempat ibadah
7.sarana rekreasi
8.perkantoran  banyak fasilitas perkantoran
9.dll
Estimasi total air buangan dibagi menjadi 3 hal:
1.Air buangan domestic
Maksimum air buangan domestic untuk daerah yang dilayani pada periode tertentu
2.Infiltrasi
Peresapan air permukaan ke dalam tanah
3.air buangan industri atau komerial
Fungsi jaringan drainase
Pada prinsip air buangan terbagi menjadi 2 : air hujan dan air kotor
Ada 3 system buangan:
1.Sistem terpisah (separate system)
2.Sistem tercampur (combined system)
3.Sistem kombinasi dua system diatas

SISTEM TERPISAH:

air hujan dan air kotor dilayani dua saluran buangan yang terpisah. Pertimbangan pemilihan system ini adalah:
1.Periode musim hujan dan musim kemarau jangka waktunya lama
2.Kuantitas air hujan dan air kotor berbeda
3.Air kotor memerlukan pengolahan secara khusus (contoh  limbah industri kimia  berbahaya!)
Keuntungan:
1.Dimensi saluran drainase tidak terlalu besar
2.Resiko bahaya masyarakat sekitar saluran drainase kecil
3.Untuk air kotor (limbah industri) pengolahannya tidak tergantung pada musim
Kerugian:
Harus membuat dua saluran yang berbeda!

SISTEM TERCAMPUR.

Saluran drainase yang menggabungkan dua jenis air buangan dalam satu saluran yang sama. Biasanya saluran pada sitem in dibuat tertutup. Dasar pertimbangan:
1.Debit masing-masing air buangan relative kecil
2.KUantitas air kotor dan air hujan tidak jauh berbeda
3.Fluktuasi curah hujan dari ketahun-ketahun relative kecil
Keuntungan:
1.hanya diperlukan satu saluran
2.terjadi pencampuran antara air hujan dan air kotor sehingga konsentrasi kandungan bahan berbahaya pada air ktor menurun
Kerugiannya:
Pada terjadi curah hujan tinggi (hujan tidak bias diprediksi secara pasti) diperlukan areal yang cukup luas untuk menampung debit air buangan.


SISTEM KOMBINASI ADALAH PENGGABUNGAN DUA SISTEM TERPISAH DAN TERCAMPUR. Air hujan maupun air kotor dibuat terpisah. Jika debit air hujan > air kotor dua saluran dengan dua system berbeda tersebut disatukan melalui interceptor.
Dasar pertimbangan:
1.Adanya Perbedaan kuantitas yang besar antara air hujan dan air kotor.
2.Biasanya digunakan di kota-kota yang banyak dilalui sungai sehingga air hujan langsung ditampung oleh sungai (drainase alami).
3.Fluktuasi air hujan yang tidak tetap.

POLA JARINGAN DRAINASE :
1.siku
digunakan pada daerah/wilayah yang memiliki topografi sedikit lebih tinggi dari sungai. Sungai sebagai pembuangan akhir berada ditengah kota.
2.pararel
saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang.
3.Grid iron
Biasanya pada kota yang memiliki sungai di wilayah yang jauh dari pemukiman/industri/pusat kota sehingga air buangan dikumpulkan terlebih dahulu pada saluran pengumpul sebelum dibuang ke sungai
4.Radial
Biasanya digunakan pada daerah berbukit sehingga pola salurannya memencar ke segala arah

1.Ruang lingkup permasalahan drainase perkotaan
Drainase  pembuangan air  masalah fisik banguanan saluran pembuangan
Draianase perkotaan  fisik bangunan drainase, hidrologi, lingkungan  kota merupakan pusat industri  memiliki permasalahn limbah berbahaya!, social budaya  seberapa besarnya secara fisik saluran drainase yang tersedia, ketika kesadaran masyarakat kurang, saluran drainase secara kuantitas dan kualitas akan tidak mencukupi  misalnya di Ibu Kota Jakarta secara kuantitas memiliki jumlah saluran drainase yang cukup, secara kualitas kurang sehingga mengakibatkan terjadinya banjir.

Anonim mengatakan...

NAMA : BAYU RESTU NUGROHO
NIM : 7206001
SEMESTER: VI


DRAINASE PERKOTAAN

• Mencakup pengelolaan pengaliran air
limpasan (“run off”) yang berasal dari
hujan yang jatuh pada daerah perkotaan
kedalam sistem pembuang/drainase
alamiah seperti sungai, danau, dan laut
• Fasilitas waduk retensi/penampung dan
pompa drainase adalah bagian dari sistem
drainase
Drainase Perkotaan berkembang menjadi :
• Pembuangan air limbah (“waste water”)
yang berupa buangan air dari daerah
perumahan dan permukiman, dari daerah
industri dan kegiatan usaha lainnya, dari
badan jalan dan perkerasan permukaan,
serta penyaluran kelebihan air baik air
hujan, air kotor maupun air lebih lainnya

Sistem Drainase Mikro
• Adalah jaringan drainase yang melayani
suatu kawasan perkotaan yang telah
terbangun seperti perumahan, kawasan
perdagangan, industri, pasar atau
komplek pertokoan
• Luas tipikal kawasan ini sekitar 10 Ha

Sistem Drainase Makro
• Adalah jaringan drainase yang
mengumpulkan air buangan dari jaringan
drainase mikro dan menyalurkannya ke
sistem pembuang alamiah terdekat seperti
sungai, danau, dan laut



Pengendalian Banjir Perkotaan
• Berkaitan dengan sistem
pembuang/drainase alamiah seperti
sungai, danau, dan badan air lainnya
(diluar laut) termasuk prasarananya
(tanggul, pintu banjir, dll) yang diperlukan
untuk mencegah peluapan dari sistem
pembuang/drainase alamiah menggenangi
daerah perkotaan

Permasalahan banjir dan drainase perkotaan
• Ditangani secara terpadu dalam satu
kesatuan sistem pencegahan limpasan
aliran sungai dan pembuangan air
genangan akibat hujan yang terjadi
• Mengarahkan dan mempersiapkan
masyarakat agar dapat hidup bersama
banjir dengan memperkuat “sistem
ketahanan terhadap banjir”

KepMen PU No. 239/1997
• Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh
alur air, baik alur alam maupun alur buatan yang
hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai
yang meliputi sungai tersebut, atau bermuara ke
laut di tepi kota tsb.
• Jaringan alur air baik alamiah maupun buatan
yang bukan bagian jaringan drainase perkotaan
adalah bagian dari sistem perlindungan banjir

KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN PRASARANA
BANJIR DAN DRAINASE PERKOTAAN

• Berdasarkan kebijakan pengembangan
prasarana dan sarana perkotaan
• Pembangunan prasarana perkotaan dan
kegiatan O&P-nya adalah menjadi
kewenangan dan tanggung jawab
pemerintah daerah (kab/kota) dengan
bantuan dan bimbingan dari pemerintah
propinsi dan Pusat

• Perencanaan, program dan identifikasi prioritas investasi
telah dilaksanakan melalui Program Peningkatan
Prasarana Kota Terpadu (P3KT)
• Peningkatan kemampuan aparat pemerintah daerah
(propinsi, kab/kota)
• Sesuai dengan prinsip desentralisasi prasarana
perkotaan
• Perbaikan prosedur, pengembangan institusi, pelatihanpelatihan
• Koordinasi dan konsultasi antara berbagai institusi

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENANGANAN
PRASARANA DRAINASE PERKOTAAN

• Pemerintah Pusat menyediakan bantuan untuk
pembangunan komponen sistem drainase utama
(“major drainage”) seperti saluran drainase
induk, waduk retensi, stasion pompa, pintu
pengendali banjir
• Pembangunan sistem drainase kecil (“minor
drainage”) utk daerah permukiman baru yang
dibangun oleh Perumnas, real estate menjadi
tanggung jawab perusahaan ybs
• Biaya O&P sistem drainase utama menjadi
tanggung jawab pem. Kab/kota, sedang biaya
O&P untuk sistem drainase kecil menjadi
tanggung jawab masyarakat
• Pemerintah Pusat mengeluarkan Standar,
Pedoman dan Manual termasuk spesifikasi teknis
• Daerah sempadan sungai dan saluran drainase
memerlukan dukungan dan penerimaan
masyarakat
• Pembangunan sistem drainase perkotaan
berdasarkan konsep pembangunan
berkelanjutan dan konservasi sumber daya air
• Perencanaan drainase perkotaan terpadu
dengan prasarana pengendalian banjir, sampah,
dan jalan kota
• Master plan pengendalian banjir dan drainase
perkotaan perlu disusun untuk kota-kota besar
di Indonesia

Strategi Peningkatan Institusi
• Pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan kapabilitas aparat
• Formulasi dan pembentukan organisasi
pengelola prasarana drainase perkotaan
• Kampanye kepedulian masyarakat atas
manfaat bagi kesehatan dari berfungsinya
prasarana drainase perkotaan dengan baik

Prasarana pengendalian banjir perkotaan dan
prasarana drainase perkotaan merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik
dalam tahap perencanaan, konstruksi,maupun
O&P-nya
Kedua prasarana tersebut perlu didesentralisasikan
kepada pemerintah kab/kota
sesuai kewenangannya, dan juga kepada pihak
swasta (developer) utk jaringan drainase yang
melayani daerah perumahan/real estate

Anonim mengatakan...

NAMA : ROKHMAT
NIM : 7206017
SEMESTER: VI


DRAINASE PERKOTAAN
JENIS DRAINASE, DAN PERMASALAHANYA

Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman .

Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
Mencakup pengelolaan pengaliran air limpasan (“run off”) yang berasal dari hujan yang jatuh pada daerah perkotaan kedalam sistem pembuang/drainase alamiah seperti sungai, danau, dan laut
Fasilitas waduk retensi/penampung dan pompa drainase adalah bagian dari sistem
drainase

Drainase Perkotaan berkembang menjadi :
Pembuangan air limbah (“waste water”)yang berupa buangan air dari daerah perumahan dan permukiman, dari daerah industri dan kegiatan usaha lainnya, dari
badan jalan dan perkerasan permukaan, serta penyaluran kelebihan air baik air hujan, air kotor maupun air lebih lainnya

JENIS-JENIS DRAINASE

1. Menurut sejarah terbentuknya.
• Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
• Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
2. Menurut letak bangunan.
• Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
• Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
3. Menurut fungsi.
• Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
• Multi purpose
Beberapa jenis air buangan tercampur
4. Menurut kontruksi.
• Saluran terbuka
• Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

PERMASALAHAN DRAINASE

Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
Disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. Reklamasi
6. Limbah sampah dan pasang surut

Anonim mengatakan...

NAMA : MUSOFA
NIM : 7206006
SEMESTER: VI


DRAINASE PERKOTAAN

Sejalan dengan kecenderungan
masyarakat akan kelestarian lingkungan
semakin menguat, sehingga dalam
pengelolaan drainase pada
daerah perkotaan telah timbul
pemikiran dan usaha untuk merubah
konsep dan prinsip-prinsip
penanganan drainase perkotaan cara
lama yaitu mengalir-kan air
secepatnya keluar dari daerah
pengaliran.
Air permukaan secara
kuantitatif semakin lama tersedia
semakin terba-tas dan secara
kualitatif semakin lama semakin
menurun juga. Sedangkan keperluan
air di daerah perkotaan se-makin
lama semakin meningkat seja-lan
dengan peningkatan jumlah penduduk
dan perkembangan ekonomi.
Untuk menjawab tantangan itu perlu
dilaksanakan usaha-usaha pelestarian
sumber daya air, termasuk dalam pe130
laksanaan pembangunan sistem drainase
di daerah perkotaan.
Prinsip sistem drainase resapan
adalah mengendalikan kelebihan air
permukaan sedemikian rupa sehingga
air permukaan dapat mengalir secara
terkendali dan lebih banyak
mendapat kesempatan untuk meresap
ke dalam tanah. Dengan debit
pengaliran yang terkendali dan
semakin bertambahnya air hujan
yang dapat meresap ke dalam tanah,
maka kondisi air tanah akan semakin
baik dan dimensi struktur bangunan
prasarana drainase perkotaan dapat
lebih efisien. Kondisi air tanah yang
semakin baik dapat memberikan
bayak manfaat kepada penduduk
daerah perkotaan.
Konsep lama dalam
penanganan drainase di daerah
perkotaan adalah mengusahakan agar
air secepatnya dapat dialirkan ke
bagian hilir dari daerah tergenang
dan akhirnya dibu-ang ke sungai,
waduk atau laut. Kon-sekuensi dari
penerapan konsep ter-sebut adalah
biaya konstruksi menjadi mahal,
penggunaan lahan lebih luas dan
pemubaziran sumber daya air yang
berharga.
Landasan Teori
Siklus Hidrologi
Daur atau siklus hidrologi adalah
gerakan air laut ke udara yang
ke-mudian jatuh ke permukaan tanah
lagi sebagai hujan atau bentuk
presipitasi lainnya dan akhirnya
mengalir ke laut kembali.
Hujan
Hujan sebagai bentuk
presipitasi yang paling penting untuk
perhitu-ngan yang berkaitan dengan
air, maka ada lima buah unsur yang
harus di-tinjau yaitu :
1.Intensitas hujan (I)
Yaitu disebut juga laju hujan sama
dengan tinggi air hujan yang jatuh
persatuan waktu dengan satuan
mm/menit, mm/jam, mm/hari.
2.Lama waktu (duration, t)
Yaitu lamanya curah hujan (durasi)
yang jatuh ke bumi dengan satuan
menit atau jam.
3.Tinggi hujan (d)
Yaitu jumlah atau banyaknya
hujan yang jatuh ke bumi yang
dinyatakan dalam ketebalan air
diatas permu-kaan datar dengan
satuam mm.
4.Frekuensi (Return Period, T)
Yaitu frekuensi kejadian besaran
hujan akan terulang kembali,
biasa-nya dinyatakan dengan
waktu ulang (return period, T),
misalnya sekali dalam T tahun.
5.Luas (Catchment Area, A)
Yaitu suatu luasan di mana bila
hujan jatuh airnya akan mengalir
melalui titik yang diamati dengan
satuan ha, km2

JENIS DRAINASE DAN PERMASALAHANNYA

1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :

• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :

1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose

Beberapa jenis air buangan tercampur

• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:

1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage


Permasalahan drainase:

Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :

1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.

2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.

3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.

4. Penyempitan dan pendangkalan saluran

5. Reklamasi

6. Limbah sampah dan pasang surut

c) Penanganan drainase perkotaan :

1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungn.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.

Anonim mengatakan...

NAMA : ARIFIN WIDADI
NIM : 7206011
SEMESTER: VI


DRAINASE PERKOTAAN

Ruang lingkup permasalahan drainase perkotaan
Drainase  pembuangan air  masalah fisik banguanan saluran pembuangan
Draianase perkotaan  fisik bangunan drainase, hidrologi, lingkungan  kota merupakan pusat industri  memiliki permasalahn limbah berbahaya!, social budaya  seberapa besarnya secara fisik saluran drainase yang tersedia, ketika kesadaran masyarakat kurang, saluran drainase secara kuantitas dan kualitas akan tidak mencukupi  misalnya di Ibu Kota Jakarta secara kuantitas memiliki jumlah saluran drainase yang cukup, secara kualitas kurang sehingga mengakibatkan terjadinya banjir.

Fungsi jaringan drainase
Pada prinsip air buangan terbagi menjadi 2 : air hujan dan air kotor
Ada 3 system buangan:
1. Sistem terpisah (separate system)
2. Sistem tercampur (combined system)
3. Sistem kombinasi dua system diatas
SISTEM TERPISAH:
air hujan dan air kotor dilayani dua saluran buangan yang terpisah. Pertimbangan pemilihan system ini adalah:
1. Periode musim hujan dan musim kemarau jangka waktunya lama
2. Kuantitas air hujan dan air kotor berbeda
3. Air kotor memerlukan pengolahan secara khusus (contoh  limbah industri kimia  berbahaya!)
Keuntungan:
1. Dimensi saluran drainase tidak terlalu besar
2. Resiko bahaya masyarakat sekitar saluran drainase kecil
3. Untuk air kotor (limbah industri) pengolahannya tidak tergantung pada musim
Kerugian:
Harus membuat dua saluran yang berbeda!
SISTEM TERCAMPUR.
Saluran drainase yang menggabungkan dua jenis air buangan dalam satu saluran yang sama. Biasanya saluran pada sitem in dibuat tertutup. Dasar pertimbangan:
1. Debit masing-masing air buangan relative kecil
2. KUantitas air kotor dan air hujan tidak jauh berbeda
3. Fluktuasi curah hujan dari ketahun-ketahun relative kecil
Keuntungan:
1. hanya diperlukan satu saluran
2. terjadi pencampuran antara air hujan dan air kotor sehingga konsentrasi kandungan bahan berbahaya pada air ktor menurun
Kerugiannya:
Pada terjadi curah hujan tinggi (hujan tidak bias diprediksi secara pasti) diperlukan areal yang cukup luas untuk menampung debit air buangan.

JENIS DRAINASE

1. Drainase yang meliputi jenis, system, dan permasalahannya:
Drainase merupakan salah satu factor pengembangan irigasi yang berkaitan dalam pengolahan banjir (float protection), sedangkan irigasi bertujuan untuk memberikan suplai air pada tanaman . Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
a) Jenis – jenis drainase :

• Menurut sejarah terbentuknya :
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Terbentuk secara alamiah , tidak terdapat bangunan penunjang
2. Drainase buatan (artificial drainage)
Dibuat dengan tujuan tertentu, memerlukan bangunan khusus
• Menurut letak bangunan :

1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Suatu system pembuangan air untuk menyalurkan air dipermukaan tanah. Hal ini berguna untuk mencegah adanya genangan.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Suatu sistem pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dibawah tanah.
Pada jenis tanaman tertentu drainase juga bermanfaat untuk mengurangi ketinggian muka air tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
• Menurut fungsi :
1. Single purpose
Suatu jenis air buangan : air hujan, limbah domestic, limbah industri dll
2. Multi purpose

Beberapa jenis air buangan tercampur

• Menurut kontruksi :
1. Saluran terbuka
2. Saluran tertutup
Untuk air kotor disaluran yang terbentuk di tengah kota.

b) Sistem dan permasalahan drainase
Sistem drainase dibagi menjadi:

1. tersier drainage
2. secondary drainage
3. main drainage
4. sea drainage